REKONSTRUKSI SEJARAH SUNAN GUNUNG JATI CIREBON

Gambar

REKONSTRUKSI KEJAYAAN ISLAM DI CIREBON

STUDI HISTORIS PADA MASA SYARIF HIDAYATULLAH (1479-1568)[1]

Oleh Mahrus eL-Mawa

Tulisan ini mencoba mengungkap tentang Syarif Hidayatullah, sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Berbeda dengan tulisan lainnya, penulis berusaha menyajikan fakta historis sosok Syarif Hidayatullah, terutama berkaitan dengan data arkeologis yang didasarkan pada naskah-naskah kuna. Temuan penulis juga mengantarkan pada realitas abad ke-15/16, dimana Islam masih diperhitungkan sebagai peradaban yang kokoh, terutama di Nusantara.

 

Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon, amewahi donga hakaliyan mantra, utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana

Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera, tata cara pengobatan, serta tata cara membuka hutan.[2]

 

Mengapa (masih) Mengkaji Syarif Hidayatullah?

Rekonstruksi sejarah Islam Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran dan tindakan setiap tokoh di daerahnya. Terlebih lagi, daerah-daerah dimana suatu kerajaan Islam telah berdiri dan berjaya pada masanya. Di antara tokoh tersebut, hampir dipastikan terdapat seorang tokoh yang mempunyai keutamaan dan pengaruh kuat bagi masyarakatnya. Sekedar menyebut beberapa contoh tokoh tersebut adalah Abdur Rauf as-Sinkili di Aceh (1615-1693), Sultan Agung di Jogjakarta (dulu Kesultanan Mataram; 1613-1645), dan Syarif Hidayatullah di Cirebon (1479-1568).

Pada era Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati dapat dikatakan sebagai era keemasan (Golden Age) perkembangan Islam di Cirebon.[3] Sebelum Syarif Hidayatullah, Cirebon dipimpin oleh Pangeran Cakrabuana (1447-1479) merupakan rintisan pemerintahan berdasarkan asas Islam, dan setelah Syarif Hidayatullah, pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah.

Diantara kontribusi Syarif Hidayatullah itu adalah menjadi salah seorang dewan Walisongo[4] di Jawa. Syarif Hidayatullah mendapatkan tugas dakwah di Cirebon (Jawa Barat), Banten, dan Sunda Kelapa (Jakarta). Tugas itu dirumuskan sebagai berikut; “Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon, amewahi donga hakaliyan mantra, utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana”. (Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca matera, tatacara pengobatan, serta tatacara membuka hutan).[5] Perbedaan lain dengan para Wali Songo, Syarif Hidayatullah selain sebagai ulama juga umara, yaitu Sultan di Cirebon.[6] Berbagai bukti kejayaan kepemimpinannya tersebut antara lain Masjid Merah Panjunan (+ 1480), Masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500).

Sejalan dengan bukti tersebut, menurut pemikir Aljazair, Malik Bin Nabi (1905-1973) dalam Syuruth al-Nahdlah,suatu peradaban muslim tidak dapat bangkit kecuali dengan akidah keagamaan.[7] Dalam konteks itulah Syarif Hidayatullah membangun peradaban muslim di Cirebon. Selaras dengan itu, peradaban di dunia Islam, pada periode tersebut telah lahir berbagai tokoh pemikirnya, antara lain Sadr al-Din al-Syirazi (w. 1497), Abu al-Ma’ali al-Maqdisi (w. 1499), Jalal al-Din al-Suyuti (w. 1505), Al-Qarafi (1533-1600),[8] Abd al-Wahhab al-Sya’rani/al-Sya’rawi (w. 1565), dan Abd al-Rahman Jami (w. 1492).[9]

Pada periode tersebut pula, di belahan dunia lainnya, merupakan era renaisans bagi benua Eropa (1495-1500). Dalam catatan sejarah, renaisans adalah periode yang berlangsung dalam kurun waktu 25-50 tahun dan puncaknya pada tahun 1500. Era renaisans tersebut bukan sekedar kehidupan yang cemerlang di bidang seni, pemikiran, maupun kesusasteraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual Abad Pertengahan, tetapi juga suatu revolusi budaya. Salah satu revolusi pemikirannya dikemukakan Nicolas Kopernick (Copernicus) pada era tersebut bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, bukan sebaliknya.[10] Pada tahun 1492, Christopher Columbus nakhoda dari Italia telah menemukan kepulauan Amerika.[11]

Sekalipun peristiwa-peristiwa besar di belahan dunia tersebut tidak berhubungan langsung dengan Cirebon ataupun Syarif Hidayatullah, tetapi sebagai konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang berkembang pada saat itu menarik untuk dilihat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga dapat membaca Sunan Gunung Jati tidak hanya seperti yang selama ini dikenal dalam legenda atau mitos.

Pada masa itu, Cirebon dikenal juga sebagai “Jalur Sutra”. Adanya pelabuhan “Muara Jati” sebagai lalu lintas utama di kawasan tersebut telah menjadi arena perdagangan internasional.[12] Pelabuhan yang ramai dan jalur utama transportasi dengan wilayah-wilayah lainnya menyebabkan kota tersebut tampil dengan keterbukaan dan menerima, atau paling tidak, tempat persinggahan bagi setiap budaya, gerakan, dan pemikiran yang melintasi kawasan tersebut.

Keterbukaan itu pula yang terjadi dalam diri Syarif Hidayatullah selama memimpin di Cirebon. Meneruskan pendahulunya, Kesultanan Islam Cirebon berada di Kraton Pakungwati.[13] Di Istana itulah Syarif Hidayatullah memulai membangun dan mengembangkan Kesultanan Cirebon sampai dengan pengunduran dirinya.

Tahun 1662 pada masa Panembahan Ratu II (Girilaya), Pakungwati terbagi menjadi dua kesultanan; daerah Panembahan Sepuh (Kasepuhan), dan daerah Panembahan Anom (Kanoman). Kasepuhan berkedudukan di Pakungwati, dan Kanoman menempati kraton baru bekas istana Panembahan Cakrabuana. Pembagian wilayah kesultanan tersebut berdasarkan kesepakatan yang difasilitasi oleh kesultanan Jogjakarta dan Banten untuk Samsuddin Mertawijaya (1677-1697) dan Badruddin Kartawijaya (1677-1703).

Bersamaan dengan kedatangan Belanda (sebagai penjajah) yang menguasai Cirebon sekitar tahun 1700, Kesultanan Kanoman terbagi lagi menjadi dua kraton; Kanoman dan Keprabonan. Terakhir, Kesultanan Cirebon terbagi pada masa Sultan IX yang bernama Sultan Anom Muhammad Kaeruddin. Saat itu, Kasultanan Kanoman terbagi menjadi dua lagi; Kanoman dan Kaceribonan. Dari pelbagai dinamika Kraton tersebut, Pudjiastuti mencatat sisi positif dari perpecahan Kesultanan Cirebon, yaitu telah terjadi perubahan progresif dalam kesusteraan setiap kali muncul Kraton baru. Di situlah kesusasteraan tumbuh maju dan berkembang.[14] Artinya, situasi pernaskahan di kraton itu sangat bergantung dengan perkembangan dari kraton sendiri.

Menurut Siddique, Kesultanan Cirebon telah mengalami kemerosotan karena pihak lain (asing) sejak tahun 1681-1940. Beberapa perjanjian dengan VOC telah mendukung adanya kemunduran itu, antara lain 7 Januari 1681, isinya bahwa ekonomi-perdagangan dimonopoli VOC, seperti pakaian dan opium; dan pada 8 September 1688 yang ditandatangai Sultan Sepuh I, Sultan Anom, dan Pangeran Tohpati, tentang pengakuan dan pembagian cacah. Dampak internalnya, timbul perpecahan dalam Kesultanan Cirebon.[15]

Sekitar tahun 1800, salah seorang Sultan Kanoman Cirebon dibuang ke Ambon. Bersamaan dengan kedatangan Daendels, pada tahun 1808 Sultan Kanoman yang dibuang tersebut, dibebaskan oleh Daendels sebagai Gubernur Jenderalnya, tetapi pemberontakan di daerah perbatasan melawan penjajah tetap belanjut. Pada tahun 1809, Daendels membangun jalan raya di pegunungan dari Batavia ke Cirebon (Jalan Raya Pos/Groote Postweg).

Selain telah dikuasai Belanda, Kesultanan Cirebon juga dijajah Inggris. Pemerintahan Inggris menguasai (sebagian) Indonesia sekitar tahun 1811-1816. Pada tahun 1815 Stamford Raffles memerintah langsung atas Cirebon. Namun, pemerintahannya sangatlah singkat, karena Britania harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia-Belanda lainnya kepada Belanda sebagai dari persetujuaan akhir Perang Napoleon.

Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia disebutkan, bahwa kekuasaan Cirebon makin lama makin dipersempit. Pada tahun 1700 Belanda mengangkat seorang Residen, Jacob Palm untuk pertama kalinya. Tak ayal lagi, pemberontakanpun sebagai salah satu cara untuk menolaknya. Pemberontakan Cirebon telah dimulai sejak tahun 1788 dan terbesar tahun 1802, tetapi semua pemberontakan dapat dipadamkan Belanda. Bahkan, untuk sebutan gelar Sultan di lingkungan kraton sudah tidak diperbolehkan dipakai lagi.[16] Hal itu sejalan dengan pendapat Kern, Cirebon berakhir kejayaannya pada abad ke-17, ketika suasana damai di Cirebon terganggu oleh kolonial.[17] Penegasan serupa ditulis H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud dalam De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java, Studen Over de Staatkundige Geschiendenis van de 15 de en 16 de Eeuw;

“Kedaulatan atas daerah Cirebon termasuk daerah-daerah Sunda pada 1705 diserahkan oleh susuhunan di Kartasura kepada kompeni (VOC) di Batavia. Keraton-keraton para keturunan Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang dari pemerintah Hindia Belanda hingga abad XX ini.”[18] 

Dengan demikian, pemerintah Kolonial Belanda telah semakin dalam ikut campur mengatur Cirebon, karena itu semakin surutlah peranan dari kraton-kraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1906 dan 1926, kekuasaan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan sebagai Kota Cirebon (Gemeente Cheirebon). Saat itu, luas wilayahnya mencakup 1.100 Hektar, dan sekitar 20.000 jiwa penduduk (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.[19] Sejak tahun 1965 Cirebon telah berubah menjadi kotamadya dan sekarang menjadi kota Cirebon dengan luas 37,36 km2.[20]

Memperhatikan latar belakang tersebut, tulisan ini menjadi penting untuk mengungkap Kesultanan Cirebon sebelum adanya campur tangan pihak asing, termasuk intervensi pihak kesultanan Jogjakarta dan Banten. Dari berbagai sumber tertulis, Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah itulah peradaban Islam dapat dikatakan masa kejayaannya.

“Ingsun titip tajug lan fakir miskin” adalah salah satu pernyataan atau petatah petitih dari Syarif Hidayatullah sebagai ikon yang digunakan oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun swasta di Cirebon. Saat ini, nama Cirebon tetap dijadikan sebagai nama salah satu kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sepanjang sejarah Indonesia merdeka dan telah menjadi pusat pemerintahan kota dan kabupaten Cirebon, keluarga besar Kraton Cirebon sepertinya belum pernah ada yang menjadi Bupati ataupun Wali Kota.[21]

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penting dikemukakan pertanyaan, bagaimana kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568? Bukti-bukti sejarah apa yang mendukung adanya kejayaan tersebut? Dengan bukti-bukti tersebut, seberapa jauh pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa?

Tujuan tulisan ini untuk melakukan rekonstruksi sejarah kejayaan peradaban Islam di Cirebon pada era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568 dan menunjukkan bukti-bukti sejarah peradaban tersebut sebagai bukti kejayaan peradaban Islam di Cirebon, serta mengungkapkan pengaruh Syarif Hidayatullah pada perkembangan dakwah Islam di Jawa.

Signifikansi tulisan ini untuk menunjukkan adanya pembuktian atau lebih tepatnya penegasan akademik bahwa Syarif Hidayatullah yang lebih populer dengan nama Sunan Gunung Jati itu bukan sekedar tokoh legenda, mitos, atau semacamnya, tetapi bagian dari tokoh historis dan fakta sosial melalui rekonstruksi historis peradaban Islam Nusantara, terutama di Cirebon pada tahun 1479-1568. Secara strategis, tulisan ini diharapkan mampu menjadi kelengkapan khasanah sejarah Islam Indonesia dalam konteks rekonstruksi sejarah Islam Nusantara dan kehidupan keagamaan masyarakat, terutama di Cirebon.

 

Penelitian Terdahulu dan Landasan Kajian

Penelitian “Kejayaan Peradaban Islam di Cirebon pada Era Syarif Hidayatullah, tahun 1479-1568” ini tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian sebelumnya, baik karena kemiripan dalam penggunaan metode dan pendekatannya, maupun kedekatan konteks serta cakupannya. Kajian terdahulu dapat berguna juga untuk diketahui perbedaan dengan kajian-kajian tersebut, sehingga kajian ini ditemukan orisinalitasnya.

Adapun kajian secara khusus dengan nama Syarif Hidayatullah, sampai dengan penulisan laporan ini belum ditemukan, kecuali kajian melalui naskah kuno, yaitu Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, baik dalam Naskah Mertasinga (2005) maupun Naskah Kuningan (2007).Kajian naskah serupa dilakukan Atja (1972) dengan judul, “Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Tjirebon)”. Dengan pendekatan sejarah dan filologi, Atja mengungkapkan tentang sejarah awal mula Cirebon; diuraikan pula tentang Syarif Hidayatullah melalui naskah yang ditulis Pangeran Arya Cirebon dan transliterasinya, “Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari”.

Nama Sunan Gunung Jati lebih sering digunakan para peneliti daripada dengan nama Syarif Hidayatullah. Dadang Wildan telah menulis untuk disertasinya yang telah diterbitkan dengan judul Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta) Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural (Bandung, 2002).[22]  Akbarudin Sucipto, “Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Perspektif Politik: Analisis Deskriptif terhadap Proses Islamisasi Cirebon abad ke-XV dan XVI” (Skripsi: STAIN Cirebon, 2006). Kajian tentang Sunan Gunung Jati juga dapat ditemukan melalui buku-buku ensiklopedi, baik ensiklopedi Islam (2002, cet.II), ensiklopedi ulama Nusantara (2009), dan Intelektualisme Pesantren (2003). Kajian mutakhir tentang Sunan Gunung Jati, dilakukan Agus Sunyoto (2011). Dalam buku yang diberi judul, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Sunyoto memaparkan se-historis mungkin dan berdasarkan data manuskrip dan arkeologi dari gugatan para penulis sejarah Islam di Jawa, dimana Wali Songo masih diabaikan.

Kajian tentang Cirebon dalam konteks sejarah, beberapa kali telah dilakukan, termasuk bahasan khusus tentang Syarif Hidayatullah walaupun tidak mendalam. De Graaf dan Pigeaud (2003 cet. V) menulis “Riwayat Kerajaan di Jawa Barat pada Abad XVI: Cirebon”. Kajian tentang Cirebon tersebut hanyalah salah satu bagian dari kajiannya tentang kerajaan Islam di Jawa, mulai dari Demak, Kudus, Madura, hingga Banten. Acuan penulisan keduanya berasal dari literatur lokal atau pribumi. Kajian serupa dilakukan RH. Unang Sunardjo, Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809 (1983). Begitu pulaUka Tjandrasasmita, “Kesultanan Cirebon: Tinjauan Historis dan Kultural” dalam karya arkeologisnya, Arkeologi Islam Nusantara (2009). Tjandrasasmita menguraikan tentang Cirebon dengan pendekatan sejarah, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, dan keruntuhan Kesultanan. Paparan lainnya terkait dengan beberapa aspek penting di Cirebon, seperti keagamaan, seni sastra, seni bangun dan ragam hias, serta wayang dan topeng.

Kajian secara khusus dilakukan oleh tim peneliti dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNPAD tentang Cirebon dengan judul “Sejarah Cirebon Abad Ketujuh Belas” (Bandung, 1991). Begitu pula dengan Darkum (Skripsi Pendidikan Sejarah Fak. Ilmu Sosial UNNES, 2007), “Peranan Pangeran Walangsungsang dalam Merintis Kesultanan Cirebon 1445-1529”.

Kajian lain tapi masih berkaitan dengan Cirebon dilakukan oleh Heriyanto (Tesis UI, 2000), “Upacara Panjang Jimat: Suatu Kajian tentang Kraton Kasepuhan Cirebon Masa Kini”. Dalam salah satu bagian kajiannya, Heriyanto memaparkan tentang kraton Pakungwati dan Syarif Hidayatullah. Informasi tersebut, sekalipun tidak berasal dari sumber primer, tetapi dapat menjadi informasi penegasan.

Adapun kajian dari pendekatan sastra dan filologi dilakukan Pudjiastuti, “Cirebon” (2001) dan “Kajian Kodikologis atas Surat Sultan Kanoman, Cirebon [Cod. Or. 2241 ILLB 17 (N0. 80)]” (2007). Studi kodeks dalam kajian Pudjiastuti dapat mempertajam analisisnya untuk mengungkap konteks surat Sultan Kanoman pada akhir abad ke-17. Isi surat itu menobatkan putra bungsu Sultannya menjadi Panembahan. Penjelasan lebih luas tentang dinamika Kesultanan Cirebon diungkap Pudjiastuti pada “Cirebon” sebagai salah satu entri Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Konteks Cirebon dalam tulisan Pudjiastuti itu berkaitan dengan pernaskahan kuna di Cirebon.

Penelitian dan penulisan tentang Cirebon dapat ditemukan pula melalui hasil penelitian dan buku-buku lain yang berasal dari seminar ataupun lainnya. Sulendraningrat menulis Sejarah Cirebon (1978). Sebagai keluarga kraton Cirebon, Sulendraningrat memaparkan Cirebon sejak Pra Sejarah, lalu masuknya Islam di Indonesia, Silsilah Sunan Gunung Jati dari Garis ayah/ibu, Silsilah 4 (empat) kesultanan hingga peleburan kota-kota kecil, seperti Kuningan ke Cirebon, dst. Karya orang dalem Kraton tersebut mengacu pada Babad Cirebon, Carub Kanda, Catur Kanda, dan kitab-kitab lokal lainnya. Paparan senada diungkap Kosoh, Suwarno, dan Syafe’i, “Jawa Barat pada masaa Pemasukan dan Perkembangan Islam”, dan “Jawa Barat dalam Abad ke-19” dalam Sejarah Daerah Jawa Barat (1979).  

Dengan perspektif yang berbeda, para penulis asing juga melakukan kajian tentang Kesultanan Islam Cirebon, mulai dari Raffles, The History of Java (2008), Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern: 1200-2008 (2010 cet. III), Van Der Kemp dalam Pemberontakan Cirebon Tahun 1818 (1979), dan Karel Steenbrink dalam Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1941) (1995). Ahmed E. I. Wahby (2007), “Architecture of the Early Mosques and Shrines of Java: Influences of the Arab Merchants in the 15th and 16th Centuries?”. Dalam kajian Wahby, yang berasal dari disertasinya pada Fakultät Geistes und Kulturwissenschaften (GuK) der Otto-Friedrich-Universität Bamberg, Syarif Hidayatullah dikupas sekilas termasuk masjid Agung dan Panjunan Cirebon.

Dengan melihat kajian-kajian terdahulu di atas, sekurangnya terdapat beberapa landasan kajian yang digunakan, yaitu sejarah, kebudayaan, filologi, arkeologi, dan arsitektur. Adapun dalam kajian ini digunakan pendekatan sejarah untuk mengungkap Cirebon pada masa Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang belum pernah dilakukan, karena itu menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Sejarah dalam kajian ini juga didasarkan pada sumber naskah dan artefak budaya. Kritik internal dan eksternal dalam pendekatan sejarah juga digunakan dalam penelitian ini demi menjaga obyektifitas keilmuan.

Dengan demikian, kajian ini diharapkan selain dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat, kajian ini dapat pula menjadi penegas, bahwa Syarif Hidayatullah atau sering dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu bukanlah legenda, dan mitos belaka, tetapi memang dapat dibuktikan melalui fakta-fakta historis, filologis, dan arkeologis.

 

Silsilah Syarif Hidayatullah: Arab dan Cirebon

Menurut Ensiklopedi Ulama Nusantara, Syarif Hidayatullah dilahirkan pada tahun 1448 dari perkawinan Raja Abdullah (Syarif Abdullah) dengan Rara Santang Putri Prabu Siliwangi asal Pajajaran, yang bergelar Syarifah Mudaim. Dilahirkan di Mesir. Pada usia ke-120 tahun, Syarif Hidayatullah (tahun 1568) dipanggil sang Khalik dan dikebumikan di Gunung Sembung Cirebon. Syarif Hidayatullah masih termasuk keturunan Rasulullah SAW. urutan ke-22 sama dengan Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sunan Giri.[23]

Menurut Purwaka Caruban Nagari, pada masa remajanya, ketika umur 20 tahun Syarif Hidayatullah telah berguru kepada Syekh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun dan Syekh Ataillahi Syazally yang bermazhab Syafei.[24] Guru-guru Syarif Hidayatullah lainnya adalah Syekh Nur Jati (Datuk Khafidz), Sunan Ampel, Syekh Najmurini (Nujumuddin) Kubra di Mekkah, Syekh Sidiq, Syekh Bentong, dan Syekh Quro.[25]

Pernikahan Syarif Hidayatullah pernah beberapa kali; Retna Pakungwati (Putri Pangeran Cakrabuana) dikaruniai dua anak: Ratu Ayu (istri Fatahillah) dan Pangeran Pesarean (Dipati Muhammad Arifin); pernikahan kedua denngan Ong Tien (Putri Cina, berganti nama Rara Sumanding, tidak berlangsung lama, karena meninggal dunia); ketiga dengan Nyi Mas Retna Babadan (Putri Ki Gedeng Babadan); keempat dengan Dewi Kawunganten (Putri Ki Gedeng Kawunganten, Banten) dikaruniai dua anak; Ratu Winaon dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I); kelima dengan Nyi Mas Rara Kerta (Putri Ki Gedeng Jatimerta) dikaruniai dua anak; Pangeran Jaya Lelana dan Pangeran Brata Lelana.[26]

Silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ayah sampai pada Rasulullah SAW. Secara singkat sebagai berikut; Rasulullah SAW. mempunyai seorang putri bernama Siti Fatimah yang berputra Sayid Husein yang berputra Zainal Abidin yang berputra Syekh Zainal Kabir yang berputra Syekh Jumadil Kubra dari Quswa yang berputra Raha Umrah-Raja Odhara dari Mesir yang berputra Sultan Bani Israil yang berputra Syarif Hidayatullah. [27]

Adapun silsilah Syarif Hidayatullah dari jalur ibu sampai ke Prabu Bunisora. Sang Prabu  mempunyai anak Kigedeng Kasmaya (Ki Ageng Giridewata) Penguasa Carbon Girang yang mempunyai putrid Nyi Karancang Singapuri dari Pulo Pinang/Singapura menikah dengan Ki Gedeng Tapa (Ki Gedeng Juman Jati, Juru Labuhan Muarajati II) mempunyai anak Nyi Subang Larang yang menikah dengan Prabu Siliwangi. Dari pernikahannya dengan Prabu Siliwangi mempunyai tiga anak; Pangeran Cakrabuana, Sari Kabun (Rara Santang, Syarifah Mudaim), dan Raja Sangara. Rara Santang menikah dengan Sultan Bani Israil (Sultan Hud, Sultan Mahmud). Dari pernikahannya dengan Sultan Mahmud mempunyai dua putra; Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. [28]
 

Guru dan Ajaran Syarif Hidayatullah

Menurut Bruinessen, dalam babad-babad tentang Syarif Hidayatullah diceritakan sebelum kepergiannya ke tanah Jawa, Syarif Hidayatullah telah mendalami akidah, syari’ah, bahkan tasawuf dengan tarekatnya. Bruinessen juga berpendapat bahwa Syarif Hidayatullah merupakan penganut Tarekat Kubrawiyah. Tarekat Kubrawiyah ialah tarekat yang dihubungkan dengan nama Najamuddin al-Kubra yang dalam Babad Cirebon selalu disebut-sebut. Setelah itu, Syarif Hidayatullah berguru kepada Ibnu Atha’illah al-Iskandari al-Syadzili selama dua puluh tahun di Madinah dan ia mendapat bayaran karena menjadi penganut Tarekat Syadziliyah. Syarif Hidayatullah juga belajar Tarekat Syattariyah, Istika’i, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah.[29] Adapun beberapa ajarannya melalui pesan, antara lain sebagai berikut:

Pesan Syekh Najmuddin Kubra kepada Syarif Hidayatullah[30];

Mapam kita iki ing ngahurip. sira aja angebat-tebat ing laku den teka patine. Yen ngucap kang satuhu, lan aja nyerang hukuming Widhi, iku samono kang nyata den kukuh laku iku”.

(Dalam hidup ini, janganlah kamu bertindak berlebihan, demikian hingga akhir hidup. Kalau bicara, bicaralah yang jujur dan jangan melawan hokum dari Yang Maha Esa, itulah hal yang nyata dan lakukanlah hal itu dengan teguh).

Pesan Syekh Athaillah di Sadili kepada Syarif Hidayatullah;

Perkara lampah kang katiti, sira aja ngebat-tebat. Den basaja sira iku, aja langguk ing wicara, sira aja ilok anglaluwih ing padaning manusa. Iku lampah kang sampurna jati. Pan sira aja susah tatapa ing gunung  utawa guane iku dadi takabur. Sira laku tapaha maring ingkang remening jalma. Lan duwea muhung. Wong kang luput den ampura. Mung semana lampah ingkang sejati”.

(Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam bicara dan jangan berlebihan terhadap sesame manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkan orang yang salah, hanya itulah langkah yang sejati).   

 

Sunyoto (2011) dalam analisisnya tentang pendidikan dan pengembangan keilmuan Syarif Hidayatullah, seperti di atas, disebutnya dengan “..diwarnai cerita-cerita absurd yang perlu penafsiran untuk mengetahui kebernaran historisnya”.[31] Memang penelitian ini perlu dilanjutkan lagi khusus mengenai guru dan ajaran Syarif Hidayatullah, untuk mendalami apa yang dikatakan Sunyoto tersebut.

 

Bukti Kejayaan Pada Era Syarif Hidayatullah

Periode Syarif Hidayatullah (1479-1568) memimpin Cirebon merupakan masa perkembangan yang sekaligus juga kejayaan Islam di Cirebon. Pada masanya, bidang politik, keagamaan, dan perdagangan, sangat maju pesat. Pada masa itu pula terjadi penyebaran Islam ke Banten (sekitar 1525-1526) dengan penempatan salah seorang putra Syarif Hidayatullah, yaitu Maulana Hasanuddin.[32] Peristiwa itu terjadi setelah meruntuhkan pemerintahan Pucuk Umum, penguasa kadipaten dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang berkududukan di Banten Girang.

Kemajuan Islam pada era Syarif Hidayatullah, tidak berhenti pada pusat pemerintahan Maulana Hasanuddin yang terletak di Surosowan dekat Muara Cibanten, tetapi juga dilakukan ke arah Priangan Timur antara lain ke Kerajaan Galuh tahun 1528, kemudian Talaga tahun 1530. Jika dipetakan, wilayah perkembangan Islam pada era itu, seperti dalam gambar, yaitu Indramayu, Krawang, Bekasi, Tangerang, dan Serang (Banten).

 

Wilayah Kekuasaan Syarif Hidayatullah 1479-1568

 

            Bukti-bukti kejayaan Syarif Hidayatullah di Cirebon, selain persoalan keagamaan yang bersifat rohani dan penyebaran Islam tersebut, juga dapat dilihat pada bangunan fisik, seperti Tajug (Masjid), Kraton Pakungwati, saat ini berada di Kasepuhan, dan pelabuhan yang saat ini tidak seramai dahulu lagi.

 

Tajug dan (atau) Masjid

                Pendirian tempat ibadah, khususnya masjid, telah dilakukan sejak Islam masuk di Cirebon. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, Pangeran Cakrabuana kemudian mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (jala artinya air; graha artinya rumah). Masjid ini merupakan masjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Masjid masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi masjid Pejalagrahan. Tempatnya di dalam Kraton Pakungwati, Kasepuhan. Masjid tersebut dibangun sekitar tahun 1454.[33]

            Selain itu, terdapat beberapa bangunan masjid pada masa Syarif Hidayatullah yang sampai hari ini diakui keberadaannya, yakni masjid merah Panjunan dan masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut salah seorang takmir masjidnya, sebelum dibangun masjid Agung Sang Cipta Rasa, dibangun terlebih dahulu masjid Merah Panjunan, yaitu sekitar tahun 1480 masjid.

Bangunan kedua masjid terbagi menjadi 2 (dua), yaitu bangunan dalam dan luar masjid. Bagian dalam masjid digunakan hanya untuk waktu-waktu khusus dan luar masjid berfungsi untuk salat maktubah. Khusus untuk masjid merah Panjunan, bagian dalam hanya digunakan untuk Salat hari raya (‘ied).[34] Sebagaimana ciri khas masjid Cirebon lainnya, di dinding bagian pengimaman terdapat lukisan khusus, bentuk undukan bata, dan piring keramik dari Cina.

 

Bagian dalam Masjid Merah Panjunan, tempat pengimaman

hanya digunakan salat idul fitri dan idul adha

Kejayaan era Syarif Hidayatullah juga terlihat dari keberadaan sebuah bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang saat ini berada dalam lingkungan kompleks Kraton Kasepuhan.  Masjid itu dibangun 1549 atau jika seperti tertulis dalam candrasangkala yang berbunyi, “Waspada Penenbehe Yuganing Ratu”, bermakna  1500. Simbol bangunan masjid melambanhkan filsafat Hayyun ila Ruhin (hidup tanpa ruh).[35] Bentuk bangunan dan simbol-simbol dalam masjid semuanya sarat makna filosofis.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dari berbagai sisi

 

               Pintu Gerbang Masjid                            Pintu Masuk Masjid Dalem

 

Kraton dan Sistem Pemerintahan Cirebon

Sarip Hidayat menikah dengan Pakungwati dan mulailah pembangunan negara (kota) Carbon, mulai dengan alun-alun dan istana yang kemudian terkenal dengan nama Istana Pakungwati (Pupuh 18, Dhandhanggula)[36]

Sejak serah terima dari Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah tinggal di Kraton Pakungwati. Perkembangan Islam secara luas dan massif bermula dari tempat itu. Berbagai perubahan sistem pemerintahan yang berdasarkan nilai-nilai Islam mulai diterapkan. Keaktifan dakwah Islam Syarif Hidayatullah tidak melupakan penataan pemerintahan di daerah sekitarnya. Hal itu pula merupakan konskwensi dari bagian dirinya menjadi anggota penting di Walisongo.

Karena menjadi bagian dari Walisongo, Syarif Hidayatullah di akhir hayatnya lebih memilih untuk menjadi seorang ulama, daripada penguasa dalam pemerintahan. Baginya, kekuasaan itu telah cukup dijalankan oleh putranya di Banten. Mempertimbangkan hal itu, Syarif Hidayatullah menyerahkan kekuasaan pemerintahan di Cirebon kepada Pangeran Pesarean pada kurun waktu 1528-1552. Pesarean merupakan putra Syarif Hidayatullah dengan Nyai Tepasari. Syarif Hidayatullah sendiri lebih memilih dan mengkhususkan dalam syiar Islam ke daerah pedalaman.[37]           

Dengan tidak aktifnya Syarif Hidayatullah dalam pemerintahan, maka dia mendapat julukan Pandita Ratu (ulama yang menjadi raja), tetapi lebih giat menjalankan keagamaan dari pada bergerak di bidang politik.

Kraton Kasepuhan sebagai pintu gerbang menuju Kraton Pakungwati

Kraton Cirebon setelah ditinggal Syarif Hidayatullah mengalami berbagai kemunduran. Hal itu sejalan dengan perkembangan pesat dari beberapa kerajaan Islam di Jawa dan Banten. Gelar penguasa Cirebon pernah mengalami beberapa nama gelar, yaitui Panembahan Ratu, dan Sultan. Dari berbagai sumber diketahui, bahwa perubahan nama gelar untuk penguasa di kraton Cirebon itu juga menunjukkan adanya dinamika yang luar biasa. Terlebih lagi, setelah adanya kolonial atau masuknya VOC ke Cirebon.

 

Pelabuhan sebagai Pusat Perdagangan

 

Peninggalan dari Syarif Hidayatullah yang pernah menjadi jalur sutra perdagangan dunia internasional adalah pelabuhan. Pelabuhan Cirebon diduga berdiri seiring dengan kelahiran Cirebon pada 1371. Sebagai kota pantai, Cirebon merupakan pusat perdagangan untuk daerah sekitarnya.[38] Selain itu, kota Cirebon juga menjadi alternatif kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Pelabuhan Cirebon merupakan Pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Syarif Hidayatullah masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapal-kapal besar tengah bersandar di dermaga. Perkembangan pelabuhan paling pesat pada abad ke-19, bersamaan dengan era kolonialisme. [39]

Menurut Singgih Tri Sulistiono, pada saat penyebaran Islam ke daerah Babadan, Kuningan (Selatan Cirebon), Indramayu, dan Karawang, terjadi dengan damai dan tanpa kekerasan, mungkin fenomena ini bisa ditafsirkan sebagai upaya Cirebon untuk memperbesar posisinya di bidang perdagangan dan pelayaran dengan cara menguasai daerah pedalaman yang menjadi sumber penghasil komoditas perdagangan seperti beras dan kayu, serta sekaligus tempat mensuplai barang-barang dari luar. Lebih-lebih pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah (1479-1568) yang lebih kurang berusia satu abad, penduduk dan keramaian kota pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon sudah lebih banyak. [40]

Saat ini, pelabuhan Cirebon mempunyai status pelabuhan internasional, pelabuhan samudra dan pelabuhan ekspor impor, yang berarti pelabuhan Cirebon terbuka bagi kegiatan bongkar muat barang dari dan ke luar negeri atau barang ekspor dan impor. Adapun pelabuhan Cirebon dikelola oleh BUMN yang keberadaannya dibawah manajemen PT (Persero).[41]

Melalui pelabuhan Cirebon inilah sebagai salah satu sumber ekonomi terbesar di kraton Cirebon sehingga dapat memenuhi kehidupan masyarakatnya. Tidak berlebihan dikatakan, jika pelabuhan tersebut kurang dimanfaatkan, maka kejayaan Cirebon juga sudah mulai tenggelam.

 

Pengaruh Syarif Hidayatullah di Jawa

Sebagaimana disebut di awal pembahasan, setiap Sunan dalam Wali Songo mempunyai tugas masing-masing. Seperti disebutkan Sunyoto, tugas tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan tatanan nilai dan sistem sosial budaya masyarakat, sebagai berikut:

Sunan Ampel membuat peraturan-peraturan yang Islami untuk masyarakat Jawa. Raja Pandhita di Gresik merancang pola kain batik, tenun lurik, dan perlengkapan kuda. Susuhunan Majagung mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan, lauk pauk, memperbarui alat-alat pertanian, membuat gerabah. Syarif Hidayatullah di Cirebon mengajarkan tatacara berdoa dan membaca mantera, tatacara pengobatan, serta tatacara membuka hutan. Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan di Jawa, mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari, bulan, tahun, windu, menyesuaikan siklus pawukon, juga merintis pembukaan jalan. Sunan Bonang mengajar ilmi suluk, membuat gamelan, menggubah irama gamelan. Sunan Drajat, mengajarkan tatacara membangun rumah, alat yang digunakan orang untuk memikul orang seperti tandu dan joli. Sunan Kudus, merancang pekerjaan peleburan, membuat keris, melengkapi peralatan pande besi, kerajinan emas, juga membuat peraturan undang-undang hingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi orang Jawa.[42]  

Menurut Serat Walisana, seperti disebut Sunyoto, tokoh Syarif Hidayatullah dikisahkan memiliki kaitan dengan ajaran sufisme melalui kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki, Syaikh Sbti, Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Syaikh Abu Yazid Bustomi, Syaikh Rudadi, dan Syaikh Samangun Asarani. Perkembangan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah, sering pula dinisbatkan pada ajaran-ajaran Wali Songo, khususnya Syarif Hidayatullah, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, dan Syekh Siti Jenar.[43]

Dalam Serat Kanda, seperti dikutip Muljana, terdapat berita bahwa Sunan Cirebon ikut serta membangun masjid Demak sebagai salah satu di antara Sembilan wali.[44] Keterlibatan Syarif Hidayatullah dengan kerajaan Islam di Demak, disebutkan pula dalam Naskah Mertasinga. Sekurangnya terdapat beberapa peristiwa besar di Demak, antara lain rapat Walisongo pernah dipindah dari Demak ke Cirebon untuk membicarakan banyak hal di Jawa. Bukti kedekatan pengaruh juga ditunjukkan dengan pola pernikahan putra putrinya. Begitu pula dengan keterlibatannya dengan kerajaan Islam di Banten.[45] Menurut sumber lain, Syarif Hidayatullah juga ikut dalam perjuangan Islam di Jayakarta melalui utusannya Fatahillah.

 

Kesimpulan

Mengkaji teks “Syarif Hidayatullah” sungguh mengasikkan. Setiap teks selalu menawarkan informasi yang tak jarang berbeda dan bertentangan satu teks dengan teks lainnya tentang sosok Syarif Hidayatullah. Sebagai sosok historis, intelektual dan muballig, Syarif Hidayatullah yang hidup pada abad ke-15/16 di Cirebon, sampai dengan tulisan ini dibuat, tidak ditemukan suatu kitab atau karya akademiknya. Abad tersebut, bersamaan dengan renaisans di Eropa dan kehadiran para pemikir besar muslim pada masanya.

Sebagai tokoh yang lebih memilih dakwah syiar Islam bagi masyarakatnya, daripada sebagai penguasa formal birokratis di kesultanan Cirebon, Syarif Hidayatullah telah menanamkan suatu peradaban moral dan teologis bagi muslim Indonesia terutama di Cirebon. Karena itu, bukti kejayaannya dapat ditemukan melalui bangunan tajug atau masjid dengan keragaman seni dan filosofinya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Merah Panjunan, barangkali diantara bukti peradaban muslim klasik Indonesia dari Syarif Hidayatullah selama kurun 1479-1568 di Cirebon.

Pengaruh Syarif Hidayatullah terhadap perkembangan Islam di Jawa sangat besar sekali. Adanya kerajaan Islam di Demak dan Banten merupakan beberapa contohnya. Tak kalah pentingnya lagi kontribusi Syarif Hidayatullah pada perkembangan Islam di Jawa Barat dengan cara dakwah dengan damai, mulai dari Kuningan, Indramayu, Majalengka, Cianjur, Garut, Ciamis, Sumedang, bahkan Jayakarta (Betawi). [ ]


[1]Tulisan ini adaptasi dari hasil penelitian ISIF sebagai mitra Balai Litbang Jakarta (2011). Pernah dimuat juga dalam Jurnal Jumantara, PNRI Vol.3. No.1. 2012. Terima kasih disampaikan kepada pihak yang telah membantu, mendorong dan mensukseskannya, terutama pada teman-teman dosen ISIF, para mitra, tim redaksi Jurnal, seperti Nurul Huda SA, Aan Jaelani, Harapandi, Saeful, Salman, dan Aditia. Pertanggungjawaban isi tulisan ada pada penulis.

[2]Kutipan ini merupakan bagian dari tugas-tugas Wali Songo dalam Primbon milik Prof. K.H.R. Moh. Adnan, seperti dikutip Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, (Jakarta: Transpustaka, 2011), hlm. 90

[3]Matthew Isaac Cohen, “An Inheritance from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java, Indonesia”, Disertasi, (Yale University: 1997), hlm. 7

[4]Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil murid-murid untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara pada abad ke-15. Walisongo terdiri dari Sembilan wali; Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Penjelasan lebih lanjut pada Mastuki HS, dan M. Ishom El-Saha (edit.), Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Pertumbuhan Pesantren, (Jakarta: Diva Pustaka, 2003), hlm. 21-34

[5]Agus Sunyoto, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah., hlm. 90

[6]H,M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, (Jakarta; Gelegar Media Indonesia, 2009),h.757

[7]Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, penterj. Afif Muhammad dan Abdul Adhem, (Bandung: Mizan,  1995) cet. II, hlm. 73  

[8]Abdullah Mustofa al-Maraghi, Pakar-Pakar Fiqh Sepanjang Sejarah, penterj. Husein Muhammad, (Yogyakarta: LKPSM, 2001)

[9]Margaret Smith, Mistikus Islam: Ujaran-ujaran dan Karyanya, penterj.  Ribut Wahyudi (Surabaya: Risalah Gusti, 2001), hlm. 183

[10]Bill Yenne, 100 Peristiwa yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia (100 Events That Shaped World History), penterj. Lili Sri Padmawati, [t.k.]: Karisma Publishing Group, 2005), hlm. 74-75

[11]Ibid., hlm. 72

[12]Diskusi tentang Cirebon sebagai jalur perdagangan dapat dibaca Susanto Zuhdi, Cirebon sebagai Bandar Jalur Sutra, (Jakarta: Depdikbud, 1996).

[13]Kraton Pakungwati merupakan tempat kedudukan utama para Raja Cirebon.

[14]Titik Pudjiastuti, “Cirebon” dalam Sastra Jawa Suatu Tinjauan Umum, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 87. Dalam sumber lain, Sultan IX yang dimaksud barangkali Sultan Kacirebonan, bukan Kanoman. Sebab, jika Sultan Kanoman IX itu bernama Sultan Muhammad Nurbuat.

[15]Sharon Siddique, Relics of the Past: Sociological Study of the Sultanates of Cirebon West Java,seperti dikutip dalam Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto,  Sejarah Nasional Indonesia: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan III, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hlm. 65

[16]Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid I A-H, Jakarta: Djambatan, 2002, cet,. II. revisi, hlm. 213. Dalam entri Cirebon ini, terdapat informasi yang masih meragukan validitasnya, bahwa nama lain Sunan Gunung Jati itu Fatahillah. Sebab, dalam tradisi lisan Cirebon dan beberapa tulisan menyebutkan, Fatahillah itu bukan keturunan Cirebon, tetapi dari Kesultanan Pasai yang diperbantukan di Cirebon, lalu ditugasi di Sunda Kelapa dan Banten. Tentang klarifikasi Fatahillah, lihat juga pada P.A. Hoesein Djajadiningrat, “Beberapa Catatan Mengenai “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinja”, dalam R.A. Kern dan Husein Djajadiningrat,  Masa Awal Kerajaan Cirebon, (Jakarta: Bhratara, 1974), hlm. 33-39

[17]R.A. Kern, “Kerajaan Jawa Cerbon pada Abad-Abad Pertama Berdirinya”, dalam R.A. Kern dan Husein Djajadiningrat,  Masa Awal., hlm. 21.

[18]HJ. De Graaf & Th. Pigeaud, Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, penyunting Eko Endarmoko dan Jaap Erkelens, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2003),  hlm. 132

[20]Profil kota Cirebon Jawa Barat.

[21]Bahan awal tentang Cirebon dapat dibaca PRA Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985) dan Membumikan Wasiat Sunan Gunung Djati Dalam Membangun Jawa Barat Bermartabat, (Cirebon: Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon, 2004).

[22]Dalam kajian Wildan tersebut, dipaparkan pula 7 (tujuh) naskah yang terkait dengan Syarif Hidayatullah dalam bentuk prosa dan tembang. Dalam bentuk prosa yaitu Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Dalam bentuk tembang, yaitu Carub Kanda, Babad Cerbon, Babad Cirebon, dan Wawacan Sunan Gunung Jati.

[23]Syarif Hidayatullah adalah putra raja Abdullah (Syarif Abdullah) bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husein (al-Husaini) bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Khan Nurdin bin Abdul Malik bin Gazam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa al-Bakir (ar-Rumi) bin Muhammad Idris an-Naqib bin Ali al-Uraidhi (Kasim al-Kamil) bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Bakir bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.).  Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, (Jakarta: Gramedia, 2009), hlm. 755 dan 758.  Menurut Suprapto, Ayah Syarif Hidayatullah, Raja Abdullah bukanlah raja di Mesir, tapi kemungkinan besar sebagai penguasa kawasan Aceh, terutama Perlak atau Pasei, walaupun berdarah Timur Tengah. Ini mirip dengan pendapat Hosein Jayadiningrat dengan argumentasi yang berbeda.  

[24]Naskah Mertasinga; dengan judul Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju, (Bandung: Pustaka, 2007), hlm. 219

[25]Lihat pada Naskah Mertasinga dan Kuningan, Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju, (Bandung: Pustaka, 2007)

[26]Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, (Jakarta: Gramedia, 2009),  hlm. 756-757

[27]Naskah Kuningan; Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju, (Bandung: Pustaka, 2007), hlm. lampiran

[28]Ibid. 

[29]Martin van Bruinessen, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat, Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1999) cet. III.  hlm. 223-245. Bandingkan dengan Naskah Mertasinga, hlm. 23

[30]Naskah Mertasinga dalam  Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju, (Bandung: Pustaka, 2007)

[31]Sunyoto, Wali Songo,. hlm. 156

[32]Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: Pustaka Gramdia, 2009), hlm. 164

[33]Babad Tanah Sunda, terbitan Suleman Sulendraningrat, seperti ditulis Dadan Wildan, Sunan Gunung Jati, hlm. 45

[34]Wawancara, Agustus 2011 di masjid merah Panjunan Cirebon. Berbeda dari informasi yang berkembang di masyarakat, menurutnya, para walisongo, sering mengadakan rapat di dalam masjid untuk membicarakan beberapa hal penting urusan umat, sebelum masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan.

[35]Waspada= 2, Panembehe= 2, Yuga= 4, Ratu= 1, jadi 1422 caka. Nama lain masjid ini adalah Masjid Pakungwati. Paramita R. Abdurrachman (penyunt.), Cerbon, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), hlm. 83. Tetapi menurut Naskah Mertasinga, Masjid Agung dibangun ketika Syarif Hidayatullah berumur 113 tahun atau sekitar 1561. Naskah Mertasinga, hlm. 123

[36]Babad Cirebon, alih aksara dan ringkasan S.Z. Hadisutjipto (Jakarta: Depdikbud, 1979), hlm. xxviii 

[37]Adeng ,dkk. Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, (Jakarta: Depdikbud, 1998),  hlm. 34-35

[39]Sigit W., “Perkembangan Pelabuhan Cirebon 1859-1930”, (Semarang: Skripsi Fak. Sastra UNDIP, 1994) dalam http://eprints.undip.ac.id/22079/

[40]Seperti dikutip Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, hlm. 164

[42]Sunyoto., hlm. 90-91. Dalam bahasa Primbonnya, sebagai berikut: Susuhunan ing Ngampel-denta handamel pranating agami Islam, kanggenipun ing tiyang Jawi. Raja Pandhita ing Gresik amewahi ing polanipun ing sinjang, sinjang batik, kaliyan sinjang lurik, saha amewahi ing wangunipun kakapaning kuda. Susuhunan ing Majagung amewahi wangunipun ing olah-olahan, dadaharan hutawi ulam-ulaman, kaliyan amewahi parabotanipun ing among tani, utawi andamel garabah. Kanjeng Susuhunan ing Gunung Jati ing Cirebon, amewahi donga hakaliyan mantra, utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. Kanjeng Susuhunan ing Giri adamel pranatanipun ing karaton Jawi, kaliyan amewahi bangsa pepetangan lampahing dinten wulan tahun windu, utawi amewahi lampahing pawukon sapanunggalipun, kaliyan malih amiwiti damel dalan tiyang Jawi. Kanjeng Susuhunan  Bonang, adamel susuluking ngelmi kaliyan amewahi ricikanipun ing gangsa, utawi amewahi lagunipun ing gending. Kanjeng Susuhunan Drajat, amewahi wanguning griya, utawi tiyang ingkang karembat ing tiyang, tandu joli sapanunggalanipun. Kanjeng Susuhunan Kudus amewahi dapuripun dadamel, waos duwung sapanunggalanipun, utawi amewahi parabotipun bekakasing pande, kaliyan kemasan, saha adamel angger-anggeripun hingga pangadilan hokum ingkang keninging kalampahan ing titiyang Jawi

[43]Sunyoto., Ibid., hlm. 91-92

[44]Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS, 2007), cet. V, hlm. 100-101

[45]Sejarah wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga), alih aksara dan bahasa Amman N. Wahju, (Bandung: Pustaka, 2007), hlm. 72-88

2 comments

  1. mohon maaf, terdapat beberapa gambar dalam tulisan hilang, sehingga hanya ada keterangan gambar saja, atau tanpa keterangan yang berakibat kurang nyaman dibacanya. jika tertarik dengan lengkap tulisan itu,nanti saya kirip Pdf. ala jurnal Jumantara. trims

  2. [...] Rekonstruksi Sejarah Sunan Gunung Djati Cirebon [...]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,255 other followers

%d bloggers like this: