“Undag-Undagan” Menuju Pesantren Benda Kerep Kota Cirebon

Gambar

Di pinggir kota Cirebon Jawa Barat, terdapat sebuah pesantren yang sangat unik dan eksotis. Di tengah bangunan pesantren dan rumah para kyai serta penduduknya, terdapat masjid yang mirip dengan bangunan masjid ala kraton. Lihat saja pada bentuk momolo-nya (sering disebut kubahnya), salah satunya. Apalagi bila ditelisik lebih jauh terdapat juga kaitan erat dengan keluarga pihak kraton di lingkungan kesultanan Cirebon. Masih banyak hal unik lainnya, seperti jalan menuju pesantren yang dipisah oleh sungai kalijaga. Pesan leluhurnya, tidak perlu ada jembatan yang dapat menghubungkannya, biarkan saja melewati air sungai yang bening, jernih, dan sedikit bebatuan biar bersih kakinya. Beberapa tahun belakangan terdapat bangunan kecil yang dapat menghubungkan jalan sungai itu. Tetapi, hal itupun tidak disebut dengan jembatan, mereka menyebutnya, “undag-undagan”, seperti gambar berikut ini.

Dok.Pribadi

“Undag-undagan” ini menghubungkan jalan di sungait itu. Benda kerep berada di wilayah kelurahan argasunya kecamatan harjamukti, sekitar 30 menit dari terminal harjamukti jika menggunakan kendaraan roda dua (ojek). Jika kita ingat kelurahan di suatu kota, maka kita akan kaget dengan kondisi jalan menuju pesantren benda kerep. Nampaknya, mereka tetap dapat hidup tanpa kehadiran “pemerintahan kota”.

Sepuluh tahun belakangan, politisi dan aparat pemerintah tampak lebih sering mendatangi kerabat pesantren. Ternyata, undag-undagan itu adalah dana dari mereka yang berasal dari pemprov Jabar. Oleh sebagian masyarakat dirasakan, dengan undag-undagan itu ketika sedang musim hujan, aliran air sungai justru semakin deras dan itu sangat berbahaya jika jalan di atas undag-undagan. Terlihat juga, air sudah tidak jernih seperti sebelumnya. Nah loh…

Saya sering silaturahim dengan Kang Miftah (40an tahun). Beliau itu kyai muda yang sering menerima tamu seperti saya ini. Beliau juga Mursyid Tarekat Syattariyah, penerus ayahnya. Selain juga, dia sedang melanjutkan jenjang pendidikan pasca sarjananya. Terima kasih kang Miftah. Jazakumullah ahsanal jaza. [ ]

Oleh Mahrus eL-Mawa//Kedaung Hijau, Semester Akhir 2012

%d bloggers like this: