NASKAH KUNO ITU “PERAWAN”, “DIPERAWANKAN”, atau???

BELAJAR DARI “EKSPLORASI” NASKAH KUNO BERSAMA MASYARAKAT CIREBON 

Gambar

 

Oleh Mahrus eL-Mawa

 

Saya ingin berbagi pengalaman terkait dengan naskah kuno, mulai dari pencarian (eksplorasi), pemeliharaan (preservasi), dan pemanfaatannya. Naskah kuno selain sebagai khazanah kebudayaan nasional, juga salah satu sumber untuk kajian dan penelitian. Dengan sharing ini diharapkan dapat menjadi gerakan bersama, bahwa naskah kuno itu harus dijaga dan dipelihara, sehingga dapat berguna untuk peradaban manusia. Namun, pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terkait dengan eksplorasi naskah kuno di Cirebon. Semoga pada kesempatan lain, saya dapat meneruskannya di media ini juga.

 

Sudah lama nasib naskah kuno menjadi perhatian (jika bukan keprihatinan) pemerhatinya, terlebih lagi naskah kuno Nusantara. Belum lama ini, peneliti dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) telah menemukan naskah kuno di Mindanao Filipina dan Rusia. Naskah-naskah tersebut diidentifikasi sebagai bagian dari jaringan naskah Nusantara.

 

Di negerinya sendiri, Indonesia, diakui atau tidak, merupakan wilayah yang belum maksimal diberikan dukungan secara khusus pada naskah kuno itu. Hal itu dapat dirasakan baik di pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah. Sekalipun, selama ini telah ada beberapa lembaga pemerintahan yang khusus menangani hal tersebut, seperti Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Tak mengherankan, jika karena hal itu beberapa lembaga seperti UI ataupun atas kerja samanya dengan pihak luar negeri telah memberi perhatian yang lebih luas. Di situlah harapannya ada keseimbangan dari semua pihak, sehingga naskah-naskah kuno tetap dipelihara di wilayahnya.

 

Dalam eksplorasi naskah kuno yang telah saya alami beberapa tahun terakhir ini, ternyata di Cirebon sering diibaratkan seperti “perawan”. Istilah itu beberapa kali pula saya dengar dari para peneliti naskah Nusantara di beberapa forum. Secara singkat, naskah kuno Nusantara (selanjutnya disebut naskah) merupakan catatan dengan tulisan tangan biasanya menggunakan alas kertas Eropa dan daluang, terjadi sekitar pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20.

 

Terdapat beberapa alasan, mengapa Cirebon disebut “perawan” dalam pernaskahan, antara lain alasan secara akademis, yaitu belum ada katalog khusus naskah Cirebon. Naskah Cirebon tersebar dalam beberapa katalog, seperti dalam Katalog Jawa Barat (1999) dan katalog Naskah Kuno yang Bernafaskan Islam di Indonesia (1998/1999). Berbeda dengan tempat lain, secara khusus telah melahirkan beberapa katalog, antara lain katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh (2007), Naskah Perpustakaan Pura Pakualaman (2005), Naskah Buton koleksi Abdul Mulku Zahari (2001), Katalog Fakultas Sastra UI (1997), dan katalog Museum Sonobudoyo Yogyakarta (1990).

 

Alasan lainnya, naskah Cirebon masih banyak yang belum direstorasi, baik yang tersebar di Empat Kraton (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabonan), maupun di koleksi pribadi atau yang tersebar di masyarakat, termasuk di dalamnya Pondok Pesantren.

 

Naskah Cirebon dianggap masih “perawan” (atau “diperawankan”) itu, dalam hemat saya lebih sering dikarenakan oleh adanya keterbatasan akses. Namun, seiring dengan tuntutan zaman, seperti globalisasi informasi, situasi tersebut sudah mulai berubah (terbuka), baik perubahan sikap, cara pandang, dan hal-hal lainnya, sekalipun dengan slowly dan cara-cara yang adaptif.

 

Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain kesadaran bersama akan masa depan dunia (worldview), dan jejaring (networking) dari pemilik naskah. Untuk pemilik naskah inipun ada beberapa kategori, baik sebagai penyalin naskah, pewaris naskah ataupun kolektor. Saat ini, sebagian besar pemilik naskah di Cirebon adalah pewaris naskah. Naskah merupakan salah satu barang yang sangat berharga karena itu diwariskan. Kolektor naskah di Cirebon merupakan fenomena baru dan sudah ada beberapa kolektor.

 

Kedua aspek tersebut sangat berpengaruh pula pada kemudahan proses eksplorasi naskah Cirebon. Bentuk kemudahan itu ditandai dengan adanya kepercayaan pemilik naskah untuk diketahui bersama melalui pemotretan naskah (digitalisasi). Digitalisasi inilah salah satu bagian dari cara pemeliharaan naskah (konservasi). Cara pemeliharaan lainnya adalah dengan mengawetkan secara fisik naskah yaitu melalui perbaikan naskah (restorasi). Istilahnya, hal itu dapat memperpanjang usia naskah. Setelah hal-hal teknis dan fisik naskah dikerjakan, barulah naskah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan akademis dalam rangka pengetahuan dan demi peradaban manusia Cirebon khususnya.

 

Terdapat pula beberapa cerita unik dalam eksplorasi naskah di Cirebon yang kualami. Seringkali cerita tersebut dalam hemat saya boleh dikatakan “serba kebetulan”, jika bukan dikatakan “takdir”.

Pada tahun 2008/2009 saya mencoba memulai mencari naskah-naskah yang berada di tangan masyarakat sebagai koleksi pribadi. Awalnya, saya bingung harus bertanya kepada siapa untuk menemukan naskah-naskah yang sangat berharga dan masih “tertutup” bagi orang yang belum dikenal dan dipercaya. Saya memang mencoba tidak bertanya kepada para pemilik naskah atau kolektor naskah yang sudah sangat terkenal atau popular di Cirebon. Sebagai dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, saya mencoba berbagi pengetahuan dengan beberapa teman dosen dan para pegawai IAIN terkait dengan “ilmu” yang baru aku dapatkan dari Pusat Lektur Agama dan Keagamaan Badan Litbang Kementerian Agama RI.

 

Tanpa disengaja dan saya tidak menduga sebelumnya, sekedar husnudhon dan teman curhatlah, saya bertemu dengan temanku, sebutlah kang Nasir (bukan nama sebenarnya). Siang itu, saya berpapasan di loby rektorat karena ingin keluar kantor dengan kang Nasir, staf kepegawaian IAIN. Setelah saya curhat kebingungan saya itu, kang Nasir lalu cerita kalau dirinya sedang melakukan penyalinan dan penerjemahan secara mandiri di rumahnya. Menurutnya, naskah-naskah itu masih bagian dari milik kraton di Cirebon. “Tutup botol ketemu dengan botolnya”. Itulah perasaanku saat mendengar pernyataan kang Nasir secara spontan. Tanpa berfikir panjang, saya membuat janji dengannya untuk melihat beberapa naskah koleksi saudaranya yang kebetulan serumah dengan kang Nasir. Setelah waktunya sudah “klop”, dengan roda dua milik kang Nasir, saya langsung meluncur ke rumahnya di pinggir kota Cirebon bagian selatan, sore hari, usai jam kantor kelar. Sekitar 25 menit dari kampus IAIN, saya dan kang Nasir tiba di kediamannya yang asri dan masih penuh pepohonan di sekitar rumahnya.

 

Wauw..Nyaris tak terpikirkan olehku, temanku itu ternyata salah seorang tokoh masyarakat yang cukup disegani. Badannya yang agak kurus dengan tinggi badan sekitar 150 cm mempunyai kharisma yang luar biasa; menjadi imam sholat, pemimpin ritual dzikir (malam hari), dan tempat bertanya dalam soal agama bagi jamaahnya. Rumahnya agak menyatu dengan makam (kuburan) salah seorang Pangeran ternama pada masa Kesultanan Cirebon, Pangeran Pasarean. Keluarga besar dari istri kang Nasir ini pemegang kuasa (kuncen) dari makam tersebut. Terdapat ritual khusus pada malam-malam tertentu di tajug (musholla) yang dipimpinnya itu. Apalagi jika pada malam jum’at kliwon dan bulan maulid, pasti banyak peziarah dari luar kota yang ingin ngalap berkah di majlis tersebut.

 

Suasana tersebut, saya dapat rasakan ketika beberapa kali berkunjung ke rumahnya terutama pada malam hari untuk melihat dan melakukan digitalisasi naskah-naskah kuno warisan dari keluarga kraton Kasepuhan, Kacirebonan, dan Kanoman. Awalnya, naskah-naskah itu kurang terawat dengan baik. Bahkan, sebagian naskah-naskah itu sudah dimakan ganasnya alam yang kurang mendukung karena diletakkan pada tempat yang kurang pas, seperti kena hujan dan serangga buku. Setelah diadakan diskusi dan share sedikit tentang pemeliharaan naskah, maka disepakati untuk dilakukan digitalisasi. Saat ini naskah-naskah tersebut sudah diletakkan dengan baik dan mudah diakses publik.

 

Keterbatasan pengetahuan pemeliharaan naskah tersebut, selain karena belum adanya ilmu tentang pernaskahan yang ditekuninya, juga didukung oleh “wasiat” dari para leluhurnya; “tidak boleh membaca naskah jika bukan murid dan keturunannya”. Bahkan, tidak jarang, ketakutan atau kekhawatiran membuka dan membaca naskah-naskah tersebut dikarena ada mitos yang berkembang, “jika tidak kuat membacanya, maka akan kena berbagai penyakit”. Saya tentu saja juga kaget dan bingung, dengan berbagai wasiat dan mitos tersebut. Walaupun hal-hal itu juga sering terjadi pada para “pemburu” naskah di manapun, sebagaimana disampaikan para peneliti (narasumber) ketika pelatihan dengan Pusat Lektur Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI di Jakarta. Setelah berdiskusi dengan pemilik naskah dan menyampaikan “tawassul” kepada para leluhur sebagai pemilik naskah, kegiatan digitalisasi baru dapat dilaksanakan.

 

Cerita-cerita “serba kebetulan” lainnya juga saya peroleh ketika melakukan eksplorasi naskah di tempat lainnya, seperti di pinggir kota Cirebon bagian utara (pantai). Bahkan, saya sendiri pernah melakukan ritual yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan pernaskahan dan ternyata saya juga dicatat menjadi bagian dari keluarga kraton tersebut sebagai salah satu syaratnya.

 

Catatan saya dari para pemilik naskah tersebut, ternyata mereka mempunyai hubungan atau berasal usul dari keturunan kraton di kota Cirebon. Hal serupa juga terjadi pada naskah-naskah yang berkembang di Pesantren Cirebon, beberapa di antaranya mempunyai hubungan dengan kraton Cirebon, seperti Buntet, Balaerante, dan Benda Kerep. Mirip dengan naskah Cirebon lainnya, naskah-naskah di pesantren Cirebon juga sepertinya masih “perawan” atau (jangan-jangan) “diperawankan” (juga).

 

Di tengah geliat kegiatan dan pengkajian naskah kuno tersebut, sebagian pesantren (dan) NU belum menjadi “subyek”. Saya dengar, saat ini sudah ada pusat kajian naskah khusus pesantren di Cirebon. Pusat kajian itu tentu sangat strategis. Terlebih lagi bila kita lihat bahwa kehadiran pesantren di bumi Nusantara itu seiring dan sejalan dengan persebaran naskah kuno. Ketika naskah kuno kurang dapat diakses publik, maka dampaknya bukan sekedar pada naskah dan pemiliknya saja, tetapi juga penggunanya.

 

Catatan lainnya, karena “perawan” itulah semestinya kita berbaik sangka (husnudhon) kepada setiap orang ketika ingin mencari pengetahuan naskah kuna cirebon, kepada siapapun dan dimanapun. Kita harus percaya, bahwa setiap orang itu punya potensi yang sama peluangnya. Di situ pula, saya yakin kebenaran ajaran bahwa kita harus selalu menebar pengetahuan dan kebenaran di manapun dan kepada siapapun. Asal dalam proses share pengetahuan itu posisi kita setara, saling membutuhkan, dan saling berbagi demi kemaslahatan bersama.

 

Pembaca yang budiman, masih ada beberapa cerita-cerita menarik, unik, menggelitik lainnya terkait dengan eksplorasi khazanah pernaskahan di Cirebon, semoga di lain kesempatan dapat di share lagi. Begitu pula ketika ada pelatihan restorasi dan preservasi naskah dengan para pemilik/pewaris naskah di kraton kacirebonan bersama peneliti dari Universitas Leipzig Jerman, Jana Wichman. [ ]

                                                                                              Kedaung Hijau, Semester Awal 2012

%d bloggers like this: