Karya Sastra ala Abrams

Karya Sastra & Orientasi Teori Kritik

“Menoleh ke Naskah Cirebon, Pangeran Wangsakerta”

Mahrus eL-Mawa

 

wayang

Untuk mengawali review “Orientation of Critical Theories” karya M.H. Abrams[1], saya mencoba kutip pernyataan berikut ini:

“Materi-materi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno merupakan karya sastra. Untuk mempopulerkannya di tengah masyarakat harus direncanakan penerbitan karya adaptasinya. Karya adaptasi adalah pengalihan bentuk dan pengolahan kembali sebuah karya sastra agar lebih sesuai dengan kalangan pembaca tertentu dalam memperhatikan unsur lingkungan dan budaya. Kadang-kadang karya adaptasi lebih hidup dibandingkan karya aslinya” (Blogspot: “Nasib Naskah Kuno”, Sastra Radio, 28-07-2009)[2].

 

Dari kutipan sederhana tersebut, terdapat beberapa kata kunci; naskah kuno, karya sastra, pembaca, dan lingkungan atau masyarakat. Terkait bahasan berikut, “Naskah Cirebon”, merupakan naskah kuno, dan karya sastra. Sekedar contoh, untuk naskah Cirebon mengambil naskah Pangeran Wangsakerta (PW). Dalam pandangan pembaca, semisal filolog, arkeolog atau sejarawan, PW telah menjadi buah bibir yang kontroversial, baik karena orisinitas teksnya ataupun kandungan isi teksnya.[3] Sebagai sebuah karya sastra, maka PW terbuka untuk diteliti, dipahami, dan dilakukan kritik. Karena itu wajar saja, asal yang perlu diingat, dalam kajian atas PW itu sesuai dengan kaidah-kaidahnya.

Terlepas dari perdebatan naskah PW tersebut, Abrams menawarkan beberapa konsep kritik sastra, dengan metode yang sudah disederhanakan dari perjalanan kritik sastra selama ini. Berdasar pengalaman susatra sejak zaman klasik hingga modern, terdapat kecenderungan karakteristik kritisisme modern tentang hubungan estetik dari sastra ke pengarang (artist), atau ke pembaca (audience), dan pada karya (work) itu sendiri.

Terdapat 4 (empat) elemen dalam situasi keseluruhan karya sastra (work of art) dalam kritisismenya, dengan bagan sebagai berikut:

 


 

UNIVERSE (SEMESTA)

 

WORK (KARYA)

 

 

ARTIST (PENCIPTA-PENGARANG)   AUDIENCE (PEMBACA)

Secara pendek bisa dikatakan, sebuah karya (work) itu berasal dari gagasan atau pengamatan akan realitas, semesta (universe). Sisi yang lain, karya juga berasal dari seorang atau beberapa orang pencipta, pengarang, atau penulis, dimana pada saat yang sama akan juga dipahami oleh pembaca atau masyarakat.

Dari bagan Abrams tersebut, nampaknya terdapat sedikit perbedaan dengan yang ditulis Teeuw, sekalipun, Teeuw juga mengutip dari Abrams (terlepas dari, misalnya, maaf hanya “salah” penulisan atau edit semata).[4] Tetapi, perbedaan itu dalam semiotik bisa dimaknai berbeda, seperti; dilihat dari tanda panah yang menunjuk ke bawah semua, mulai dari universe, karya, hingga pencipta dan pembaca, sebagaimana dalam bagan berikut:

UNIVERSE (SEMESTA)

 

WORK (KARYA)

 

 

 

ARTIST (PENCIPTA-PENGARANG)   AUDIENCE (PEMBACA)

Dengan menafikan perbedaan kedua penulis termasyhur dalam sastra tersebut, dapat dikatakan bahwa tidak mungkin suatu karya itu hadir tanpa melalui dialog, dengan realitas atau semesta, dan keberadaan dari konteks seorang pengarang, dan bagi para pembacanya. Oleh Apsanti, perbedaan itu sebenarnya bukan soal “beda panahnya”, tetapi yang harus diperhatikan adalah tidak ada karya yang “lepas” dari semesta atau mimetik.[5]

Mimetik ini, dalam ulasan Abrams termasuk dalam kategori salah satu teori dari 4 (empat) teori kritisisme sastra, yaitu obyektif, ekspresif, dan pragmatik. Teori-teori ini merupakan sesuatu yang penting dalam studi atau riset tentang karya sastra, apapun bentuk karya sastranya.

Teori mimetik. Mimetik merupakan keterangan (explanation) atas suatu karya yang secara esensial berasal dari suatu tiruan (imitation) pada aspek universe. Orientasi mimetik, barangkali teori estetik yang paling sederhana, tetapi mimesis bukan konsep yang sederhana sebagaimana ditunjukkan kali pertama  dalam dialog Plato.

Teori pragmatik, yakni sebuah pendekatan yang menitikberatkan pada pembaca (audience). Karya sastra sebagian besar sebagai alat untuk menuju tujuan, sebagai instrumen untuk memperolah hasil yang dilakukan dan cenderung menimbang nilai-nilai sesuai kesuksesan dalam memperoleh maksud itu. Karena itu, kecenderungan dalam teori pragmatik adalah memahami sesuatu yang telah dibuat menurut pengaruh kebutuhan tanggapan (responses) pembaca (readers).

Teori ekspresif, yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada penulis (artist). Secara esensi, sebuah karya sastra itu yang eksternal dibuat internal, yang dihasilkan dari sebuah proses kreatif; berasal dari gerak hati perasaan, dan terwujud dalam kombinasi dari persepsi penyair (penulis), pemikiran, dan perasaan. Karena itu sumber utama dan the subject matter sebuah syair (karya) adalah pertalian dan tindakan pemikiran penyair sendiri, atau jika subject matter aspek dunia luar, hal ini adalah dirubah dari fakta ke syair lewat perasaan dan penggunaan pemikiran penyair sendiri.

Teori obyektif, pendekatan yang menitikberatkan pada karya (work) itu sendiri. Secara prinsip, melihat karya sastra dapat dipisah dari semua referensi di luar karya, menganalisa karya sastra sebagai sebuah entitas yang sudah bisa dipahami dengan sendirinya yang tersusun dari bagian-bagian hubungan internal, dan menilai karya sastra semata-mata dari unsur intrinsik.

Dengan begitu, “naskah Cirebon” melalui perdebatan naskah PW yang ada, sepertinya masih terbatas pada teori ekspresif dan obyektif. Pertama, karya PW diragukan ditulis oleh Wangsakerta sendiri. Sebagai pembaca dan peneliti yang sebagian besar sejarawan itu tidak percaya dengan sang penulis dan substansi naskah PW. Alasan penolakannya, seperti naskah PW kandungannya cenderung melebihi zamannya. Kedua, sebagai suatu karya, naskah PW jumlahnya cukup banyak dan berjilid-jilid. Hal ini, kata para peneliti, tidak mungkin dilakukan langsung oleh Wangsakerta. Karena itu, menurut para sejarawan, tidak bisa menjadikan naskah PW sebagai data primer dalam kajian sejarah.

Barangkali akan berbeda hasilnya, bila teori mimetik dan pragmatik juga digunakan untuk menganalisis PW. Sebab, dengan kedua teori tersebut, memungkinkan ditemukannya naskah serupa. Sebagaimana dilakukan oleh para arkeolog atas naskah PW. Dari temuan arkeolog itu, naskah PW isinya mirip dengan naskah lainnya, karena itu perlu ditindaklanjuti lagi oleh para filolog, sehingga bisa dibuktikan atau ditemukan data dan informasi yang memadai sesuai dengan kaidah-kaidah filologis dan ilmu bantu lainnya. [ ]


[1] Lihat, Vassilis Lambropoulos and David Neal Miller (edit), Twentieth-Century Literary Theory: An Introductory Anthology, Albany: State university of New York, 1987,  hlm. 3-31

[3] Agus Aris Munandar, Sang Tohaan Persembahan untuk Prof. Dr. Ayatrohaedi, khususnya bagian “Naskah-Naskah Karya Pangeran Wangsakerta Sebagai Sumber Data Kajian Tentang Masa Silam”, (Bogor: Akademia, 2004), hlm. 69-91

[4] A. Teeuw, Sastera dan Ilmu Sastera, Jakarta: Pustaka Jaya, 2003 cet. III, hlm. 42

[5] Pendapat Apsanti Djokosujanto ini pada saat diskusi mata kuliah “Teori Sastra” di kelas Matrikulasi mahasiswa S-3 Susastra FIB UI Depok, 9 Nopember 2009.

%d bloggers like this: