Estetika ala Ismail Raji al-Faruqi

Ismai’l Raji al-Faruqi dan Estetika Islam

oleh Mahrus eL-Mawa

 

 

Tamhid

Estetika, kadang-kadang dirumuskan sebagai cabang filsafat yang berhubungan dengan teori keindahan. Satu pokok persoalan dari teori keindahan adalah apakah keindahan merupakan sesuatu yang ada pada benda indah ataukah hanya terdapat dalam alam pikiran orang yang mengamati benda itu?. Dalam sejarah estetika, problem ini menimbulkan dua kelompok teori yang masyhur, yakni teori obyektif dan teori subyektif tentang keindahan.

Dikatakan teori obyektif, keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetis adalah sifat yang telah melekat pada benda indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pada teori ini, masalahnya adalah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetis. Adapun dalam teori subyektif dinyatakan, bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada sesuatu benda itu sesungguhnya tidak ada, karena yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Jadi, adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari pengamat itu. Jikapun disebut sesuatu benda punya nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh suatu pengalaman estetis sebagai taggapan terhadap benda itu.[1]

Lebih tegas dikatakan Kattsoff, bahwa semua penyelidikan mengenai hakekat keindahan dinamakan estetika. Namun, estetika juga mempersoalkan teori-teori mengenai seni. Dengan demikian, lanjut Kattsoff, estetika merupakan suatu teori yang meliputi penyelidikan mengenai yang indah, prinsip-prinsip yang mendasari seni, dan pengalaman yang bertalian dengan seni (masalah penciptaan seni, penilaian terhadap seni atau perenungan atas seni).[2]

Diantara teori tentang seni, dimaksud antara lain: bahwa seni merupakan hasil kegiatan intuisi dan ekspresi, lalu seni juga merupakan ungkapan keindahan yang menjadi obyek tangkapan akali, dan terakhir seni merupakan pengalaman yang teratur serta lengkap yang di dalamnya makhluk hidup secara perorangan mengalami keberhasilan.[3] Sedangkan aktifitas seni adalah membangkitkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang pernah mengalaminya dan setelah itu dengan perantaraan berbagai gerak, garis, warna, suara, atau bentuk memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang lain mengalami pula perasaan yang sama.[4]

Untuk membicarakan Estetika (Islam) menurut Prof. Dr. Isma’il Raji al-Faruqi, sebagaimana termaktub dalam tiga literatur pemikirannya, Islam and Culture (1980), lalu al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982), dan The Cultural Atlas of Islam (1986), barangkali dapat dilihat dengan paradigma di atas.[5]

Mengenal Al-Faruqi

Kehidupan al-Faruqi, seluruhnya adalah kehidupan islamisasi ilmu pengetahuan. Ia mengetahui semua keburukan Kristen, memahami semua cacat Yahudi, dan menguasai filsafat Barat dan mengamati keburukan-keburukannya. Lalu, ia juga mengenal segi-segi Islam, kekhususan-kekhususan syari’at Al-Qur’an, mendalami sejarah agama-agama, dan hampir tidak ada konperensi dalam lapangan ilmu-ilmu kemanusiaan, kecuali al-Faruqi sebagai pencetusnya dan pembicara yang menguasai otak dan dan pikiran.[6]

Ia mendapat julukan Abu Sakhar (bapaknya batu granit), lahir pada tanggal 1 Januari 1921 di Jaffa Palestina, dan meninggalkan kehidupan fana ini, tanggal 27 Mei 1986 bersama isteri, dan keluarganya dibunuh petrus secara brutal di rumahnya Wynocte, Philadhelphia. Pendidikan formal al-Faruqi, hampir semuanya berbasiskan dalam lingkungan Filsafat.[7]

Ketika mulai mengajar di McGill, sebagian kalangan orientalis rada ngeri pada al-Faruqi. W.C. Smith, direktur Islamic Studies McGill University misalnya, melihat al-Faruqi sebagai tokoh ‘pemberang’ dari Palestina yang dipersenjatai dengan kemampuan intelektual yang canggih. Ia sangat aktif dalam berbagai kajian Islam dan menjadi dosen di banyak universitas. Jabatan terakhir akademisnya adalah guru besar Pemikiran dan Kebudayaan Islam di Temple University, Philadhelpia Amerika.[8]

 

Sense of  Crisis

Untuk melihat kegelisahan al-Faruqi mengenai estetika Islam, barangkali dapat dilihat pada beberapa tulisannya, pertama ‘Pandangan tentang Keindahan’.[9] Lalu ‘Misconceptions of the Nature of Islamic Arts’ dan ‘On the Nature of the Work of art in Islam’.[10] Untuk dua tulisan terakhir, barangkali lebih pada seninnya. Paparan singkatnya, seperti dalam dua alinea berikut.

Hampir semua agama, seperti Kristen, Hindu, Budha, atau Yahudi itu menganggap gejala estetika sebagai tak punya kaitan apa-apa dengan penyusunan, atau pembentukan agama. Ia muncul berabad-abad setelah agama itu lengkap dan sempurna. Jikapun suatu agama berbicara tentang cita estetis pada waktu pembentukannya, maka pastilah itu berupa pengutukan atasnya sebagai sesuatu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari agama lama yang diperangi atau akan digantikannya. Hal ini, berbeda dengan Islam, dimana pengalaman estetis sangat berpengaruh dalam membentuk landasan bagi wahyu dan otoritas ilahi, kata al-Faruqi.[11]

Seni dalam tradisi Islam sebagaimana dituliskan oleh para sarjana Barat, seperti H.G. farmer, TW.Arnold, G.von Grunebaum, dst. adalah keliru dan lebih pada prasangka. Karena itu, kata al-Faruqi jauh dari menyumbangkan sesuatu kepada kepada seni kaum Muslim sepanjang abad. Dikatakan mereka, bahwa islam menghalangi atau membatasi kecenderungan-kecenderungan artistik mereka, makanya satu-satunya kesenian yang ditumbuhkan hanyalah penggunaan ayat-ayat al-Qur’an.[12] Dikatakan Grunebaum, misalnya bahwa islam tidak mempunyai seni figuratif (seni patung, seni lukis, dan drama) karena ia tidak memiliki dewa-dewa yang berinkarnasi atau menyatu dengan alam, dst. Padahal, kata al-Faruqi, hal itu justru merupakan keistimewaan Islam. Adalah suatu keagungan unik Islam bahwa ia mutlak bebas dari idolatri, yaitu perjumbuhan makhluk dengan khalik.[13]

Berawal dari faktor-faktor itulah, hemat pengkaji, al-Faruqi kemudian menulis tentang estetika dalam islam, jika bukan islamisasi estetika. Satu hal yang mungkin perlu dicatat lagi adalah tulisan tentang estetika dalam tiga literatur yang disebutkan di muka, semuanya itu berada di belakang pembahasan. Terlepas dari apakah hanya kebetulan atau sengaja, penempatan di bagian akhir tersebut, barangkali mengindikasikan bahwa kebutuhan estetis itu diperoleh setelah kebutuhan dasar lainnya terpenuhi.

Kerangka Teoritik

Istilah estetika sangat sulit ditemukan secara equivalent, bahkan lebih sulit dari term ‘art’ dalam bahasa Arab. Kata dzawq-dzawqi, jamil-jamilah, dan fann-fanniyah yang sering digunakan untuk maksud estetis, ternyata tidak cukup untuk mengungkapkan maksud estetika yang diharapkan. Justru, kata fann sangat sesuai dengan seni (art). Tetapi, apabila estetika maksudnya filsafat seni (philosophy of the arts), maka dalam bahasa Arab dapat digunakan dengan falsafah al-funun.[14] Meskipun, antara estetika dan seni sendiri mempunyai titik beda yang nampak, tapi esensinya sama.

Bagi al-Faruqi, estetika Islam merupakan pandangan tentang keindahan yang muncul dari pandangan dunia tawhid yang merupakan inti ajaran Islam. Yaitu keindahan yang dapat membawa kesadaran penanggap kepada ide transendensi.[15]

Adapun seni Islam, dikatakannya adalah segala produk historis yang memiliki nilai estetis yang telah dihasilkan oleh orang-orang Muslim dalam kurun sejarah Islam berdasarkan pandangan estetika tawhid dan selaras dengan semangat keseluruhan peradaban Islam, dengan enam ciri yang diambilkan dari ideal al-Qur’an: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repitisi, dinamis, dan rumit. Enam ciri ini, bisa dilihat dalam paparan rincinya tentang Seni Suara dan Seni Ruang. Dengan demikian, seni Islam memiliki sebuah tujuan yang sama dengan tujuan al-Qur’an, yakni untuk mengajar dan mengingatkan manusia terhadap transendensi ilahi. Jadi, seni Islam tidak lain adalah seni Qur’ani.[16]

Estetika Islami

Melalui paradigma berfikir di atas, al-Faruqi mencoba menawarkan kerangka estetika menurut Islam, termasuk di dalamnya seni. Baginya, kitab suci Al-Qur’an merupakan perwujudan yang sempurna unik dari keluhuran sastra, telah ikut mempengaruhi kesadaran estetis setiap muslim. Salah satunya adalah i’jaz al-Qur’an, lalu pengaruh sastranya (balaghah) juga melimpah dalam seni rupa, terutama kaligrafi, seni dekorasi, sajadah, dll. Pengaruh yang sama pula pada seni suara, yakni pembacaan ayat al-Qur’an, azan, dan semua bentuk musik vokal maupun instrumental. Jadi sepenuhnya, dijiwai oleh nilai-nilai estetis al-Qur’an.[17] Sehingga, jika ada apa yang disebut sebagai karya seni, maka al-Qur’an adalah karya seni pertama dalam Islam.[18]

Tawhid berarti pemisahan ontologis antara Tuhan dan seluruh lapangan alam. Tawhid juga, kata al-Faruqi tidak menentang kreatifitas seni, juga tidak menentang penikmatan keindahan. Hal itu berangkat dari premis, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dan seniman muslimpun berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatupun di alam ini yang dapat mengungkapkan Tuhan. Oleh karena itu, ketika dia melakukan stilisasi pada setiap benda alam yang dia gambarkan, dia menjauhkannya dari alam sejauh mungkin.[19] Dari sinilah, sebabnya mengapa karya seni Islam menjauhi naturalisme dan empirisme lewat stilisasi yang puncaknya abstraksi atau formalisme, kata al-Faruqi.[20]

Sehingga, lanjut al-Faruqi orientasi dan tujuan estetika Islam, tidak dapat dicapai dengan penggambaran melalui manusia dan alam. Ia hanya dapat direalisasikan melalui kontempelasi terhadap kreasi-kreasi artistik yang dapat membawa pengamatnya kepada intuisi tentang kebenaran itu sendiri; bahwa Allah sangat berbeda dengan ciptaan-Nya dan tak dapat direpresentasikan dan diekspresikan.[21]

Seni disebut seni karena gayanya, isinya, cara penyampaiannya, dan bukan karena materi yang digunakannya, yang sebagian besar diperoleh melalui interaksi geografis atau sosial. Seni islam adalah suatu kesatuan dikarenakan oleh fondasi ini, melalui Islam di dalam kesadaran Arab. Kategori-kategori kesadaran Arab itulah yang menentukan produk-produk seni kaum muslim.[22]

Seni kaum muslim sering disebut dengan seni pola-pola infinit atau “seni infinit”. Ekspresi estetis seperti itu, dinamakan juga arabesk (arabesque), kata al-Faruqi. Arabesk merupakan entitas struktural yang selaras dengan prinsip-prinsip estetika ajaran Islam.[23] Secara estetis, obyek alam dalam arabesk menjadi jendela ke “yang tak terbatas”. Memandangnya sebagai sesuatu yang mengesankan ketakterbatasan, berarti mengenali salah satu arti transendensi.[24] Karena itu pula, barangkali, bahwa seni atau estetika Islam melalui Tawhid sampai ke transendensi ilahi.

Tentang beberapa tokoh yang berjasa dalam sejarah peradaban (baca: estetika) muslim, dalam masing-masing bidangnya antara lain Ibn an-Nadim, Abu al-Aswad ad-Duali, Ibn al-Munajjim, dst. dan beberapa contoh arsitektur, disebutkan al-Faruqi, adalah bangunan masjid-masjid besar dalam dunia Islam dengan berbagai jenis nama dan bentuknya.[25]

Takhtim

Peta pemikiran Islam, dalam satu klasifikasi, terbagi menjadi model kalam, tasawuf, fiqh, falsafah, dll. Pada klasifikasi lainnya, terbagi menjadi tradisional, modern, postmodern, dll. Hal yang sama juga terjadi pada estetika sebagai bagian dari pemikiran Islam. Dimana pada abad klasik, estetika lebih digemari oleh para sufi dengan syair-syair dan tari-tariannya. Sementara oleh para mutakallimin dan fuqaha, hal itu dikecam dengan keras.[26]

Melihat apresiasi al-Faruqi yang agak berlebihan pada estetika dan seni tersebut, yakni dengan mengatakan bahwa semuanya ada dalam al-Qur’an[27] dan tujuannya untuk transendensi ilahi, maka tidak berlebihan jika terkesan agak apologis, meski pendekatan yang digunakannya adalah filosofis dan sedikit lebih ideologis. Sedangkan metodologi yang digunakan lebih dekat pada hermeneutik, khususnya ketika al-Faruqi memaparkan Al-Qur’an atau Tauhid sebagai prinsip transendensi dalam estetika.[28]

Jika Dikaitkan dengan teori estetika, seperti di awal pembahasan, maka al-Faruqi lebih menggunakan teori subyektif dalam melihat estetika Islam. Hal ini, barangkali lebih dikarenakan al-Faruqi sebagai pemikir muslim yang selalu mendorong terwujudnya islamisasi pengetahuan di segala bidang. Lebih-lebih, ia bukanlah pelaku seni yang mempunyai karya seni, apakah puisi, lukisan, atau lain-lainnya. Ini, satu persoalan tersendiri, barangkali, jika bukan sebuah kesulitan.

Masalah lain yang muncul adalah bagaimana aplikasi gagasan al-Faruqi, bila diterapkan dengan estetika atau seni dalam entertainment yang terjadi setiap detik di depan mata kita, apakah televisi, vcd, media massa, dll. apanya atau bagian mana yang perlu diislamisasikan, subyek atau obyeknya, atau hal lainnya?

Adapun dari gagasan al-Faruqi di atas, khusus pemahamannya tentang keabstrakkan seni, sepertinya, al-Faruqi terpengaruh oleh visi abstraksi Arthur Schopenhouer dalam The World as Will and Idea yang menolak naturalisme.[29] Padahal, pada sisi yang lain seni atau estetika ada pula yang bercorak natural.

Terlepas dari kekurangan yang ada, kontribusi al-Faruqi, bagi perkembangan Filsafat Islam, khususnya setelah kajian estetika Iqbal dan Nasr, layak untuk dipertimbangkan sebagai sesuatu kajian yang perlu diteruskan. Karena itu pula, penting juga menimbang istri al-Faruqi sebagai seorang ilmuwan mempunyai spesifikasi dalam bidang seni dan peradaban. Lalu, ia memusatkan usahanya selama bertahun-tahun untuk membangun dan memurnikan teori seni Islam, sehingga di bahunyalah beban Islamisasi seni[30] patut untuk dikaji lebih mendalam.

Jika mengingat bahwa islamisasi pengetahuan merepresentasikan sebuah tipe pengetahuan yang didasarkan atas kaidah dan tujuan perintah Tuhan. Kemudian, dikaitkan dengan kebenaran, dan penilaian dalam warisan Ummah, isi pemikiran ilmuwan dan pemikir-pemikir abad sebelumnya. Sehingga membuat suatu metodologi, saintifik, pendekatan mental menuju humanitas, ilmu-ilmu sosial, dan aplikasi ilmu-ilmu. [31] Kayaknya, estetika al-Faruqi dalam berbagai tulisannya itu, mendekati islamisasi pengetahuan dimaksud. []

Wallah a’lam

BIBLIOGRAFI

Abdullah, Amin. Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer. Bandung: Mizan 2000

al-Abidin, Ath-Thayyib Zain. Permasalahan Metodologis dalam Pemikiran Islam penterj.  Rifyal Ka’bah. Jakarta: Media Da’ah, 1994

al-Faruqi, Isma’il Raji. Ismazation of Knowledge: General Principles and Work Plan. Herndon: IIIT, 1995. edisi II.

______. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam. Yogyakarta: Bentang, 1999

______. Islam dan Kebudayaan. Penterj. Yustiono. Bandung: Mizan, 1984

______.al-Tawhid: Its Implications for Though and Life, 2d ed. Herndon, Virginia: IIIT, 1992

______.Tauhid. penterj. Rahmani Astuti. Bandung: Pustaka, 1988

al-Faruqi, Lamya’. “Islamizing The Arts Disciplines” dalam Toward islamization of Discliplines. Virginia: IIPH, 1995 edisi II

Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1996

Esposito, John L. “Isma’il Raji al-Faruqi”, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, John L. Esposito (edit.) Vol. 2. New York:  Oxford University Press, 1995

Gie, The Liang. Filsafat Keindahan. Yogyakarta: PUBIB, 1997 cet. II

Kattsof, Louis O. Pengantar Filsafat, penterj. Soejono Sumargono. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1995 cet. V

Suardi, Dedy. Vibrassi Tauhid: Meresponi Keesaan Tuhan. Bandung: Rosda, 1993


[1]The Liang Gie, Filsafat Keindahan, (Yogyakarta: PUBIB, 1997 cet. II), hlm. 49-50

[2]Louis O. Kattsof, Pengantar Filsafat, penterj. Soejono Sumargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1995 cet. V),  hlm. 378

[3]Ibid., hlm.193

[4]The Liang Gie, hlm. 70

[5] Khusus The Cultural Atlas, pengkaji hanya mengambil bagian akhir dari buku terakhir al-Faruqi itu, sebagaimana telah diterjemahkan oleh Hartono Hadikusumo menjadi, Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, (Yogyakarta: Bentang, 1999). Dua karya al-Faruqi lainnya juga telah diterjemahkan. Tauhid, oleh Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1988), dan satunya lagi oleh Yustiono, menjadi Islam dan Kebudayaan (Bandung: Mizan, 1984). Adapun tulisan-tulisan lainnya, “Islam and Art” Studia Islamica, 37 (1973), “Misconception of the Nature of Islamic Art” Islam and the Modern Age, Vol.  I, no 1 (May 1970) dan “On the Nature of the Work of Art in Islam” Islam and the Modern Age, Vol.  I, no 2 (August 1970) Bandingkan, al-Faruqi, al-Tawhid: Its Implications for Though and Life, 2d ed., (Herndon, Virginia: IIIT, 1992), hlm. 196-197. Buku The Cultural dikarang Isma’il R. al-Faruqi bersama isterinya Dr. Lois Lamya al-Faruqi dan baru diterbitkan setelah beberapa saat mereka meninggal dunia. Lihat, Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post-Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 50

[6]Demikian dikatakan Presiden IIIT pada pembukaan pertemuan internasional ke-4 pemikiran Islam yang termuat dalam Ath-Thayyib Zain al-Abidin, penterj.  Rifyal Ka’bah (Jakarta: Media Da’ah, 1994), Permasalahan Metodologis dalam Pemikiran Islam, hlm. 28.

[7]John L. Esposito, “Isma’il Raji al-Faruqi”, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, John L. Esposito (edit.) Vol. 2, (New York:  Oxford University Press, 1995), hlm.3-4.

[8] Azyumardi Azra, Pergolakan, hlm. 31.

[9]Bagian akhir dari al-Faruqi, Islam dan Kebudayaan.

[10]Sebagaimana diungkap dalam karya al-Faruqi, al-Tawhid:, hlm. 196-197 atau Tauhid, hlm 201-203.

[11]Al-Faruqi, Islam dan Kebudayaan, hlm. 70

[12]Tauhid. , hlm. 201

[13]Ibid., hlm. 207.

[14]Lamya’ al-Faruqi, “Islamizing The Arts Disciplines” dalam Toward islamization of Discliplines, (Virginia: IIPH, 1995 edisi II),  hlm. 460-461.

[15]al-Faruqi, Seni Tauhid., hlm. vii

[16]Ibid., hlm. viii dan 2. Adapun Penjelasan secara lebih lebar tentang Abstraksi, dst. Lihat, hlm. 8

[17]Islam dan Kebudayaan, hlm. 77-78

[18]Tauhid., hlm. 213

[19] al-Faruqi, Tauhid., hlm. 207.

[20] Islam dan Kebudayaan, hlm. 73

[21]Seni Tauhid., hlm. 4-5

[22]Tauhid., hlm. 215.

[23]Seni Tauhid., hlm. 6

[24]Tauhid., hlm. 208

[25]Secara lengkap lihat dalam lampiran Seni Tauhid., hlm. 231-257. Bandingkan dengan Tauhid., hlm. 224.

[26]Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer, (Bandung: Mizan 2000), hlm. 220.

[27]Seperti, disebutkan dalam Islam dan Kebudayaan, hlm. 69. “Pada kenyataannya, Qur’an adalah kehadiran Allah di bumi in percipi , yaitu sejauh kehadiran ilahi bisa menjadi obyek pengetahuan manusia. Qur’an adalah ekspresi kebijaksanaan dan pengetahuan Allah, tuntunan dan petunjuk-Nya, kehendak dan perintah-Nya”.

[28]Bandingkan dengan Seni Tauhid., khususnya, hlm. 3 dan 7.

[29]Seperti dikutip, Dedy Suardi dalam Vibrassi Tauhid: Meresponi Keesaan Tuhan, (Bandung: Rosda, 1993), hlm. 80 dan 82.

[30]Sambutan Presiden IIIT., hlm 29

[31] Isma’il Raji al-faruqi, Ismazation of Knowledge: General Principles and Work Plan, (Herndon: IIIT, 1995 edisi III), hlm. 85.

One comment

%d bloggers like this: