Filsafat Islam: Falsafah dan Kalam (?)

Polemik Falsafah dan Kalam

Dalam Perspektif Kultural-Historis[1]

 

 

Oleh:

Mahrus eL-Mawa

 

 

 

Pengantar

 

Kalâm (islamic theology) dan falsafah (philosophy) adalah dua tradisi pengetahuan yang dikembangkan oleh pemikir-pemikir muslim. Keduanya digunakan untuk clarification dan pembenaran prinsip-prinsip agama Islam (mutakallimîn) secara rasional, di satu sisi, dan dalam pencapaian ilmu-ilmu purbakala Yunani dan Hellenistik[2] atau Roma-Yunani (falâsifa), pada sisi ‘historisnya’.[3]

Barangkali, itulah yang dapat dipahami dari kedua wacana yang telah berkembang sekitar empat belas abad lalu. Akan tetapi, seiring dengan conjuncture sosial, budaya, politik dan intelektual umat Islam, hal itu menimbulkan polemik berkepanjangan. Pertentangan tersebut, setidaknya dapat dilihat karena dua faktor: pertama, bahwa awal munculnya perbincangan keduanya itu disinyalir karena “keterpengaruhan” akulturasi budaya non-Islam (baca: the pre-Islamic relegion) dan kedua, bahwa setelah kalâm dan falsafah sering digunakan sebagai dalîl (argumentasi) para tokoh-pemikir (baca: Mutakallimin dan Filosof muslim) pasca era Rasulullah Muhammad telah menimbulkan suatu schism tersendiri dalam perkembangan pemikiran Islam hingga dewasa ini, sekurangnya dimulai dengan gagasan untuk membunuh Khalifah ‘Usmân ibn ‘Affân.[4]

Sebagai contoh bukti dari faktor pertama, adalah sikap keberatan Ibn Taymiyyah dan Jalâl ad-Din as-Suyuthi sebagai representasi beberapa ulama termasyhur terhadap falsafah dengan menunjuk kemusyrikan orang-orang Yunani sebagai salah satu alasannya.[5] Adapun munculnya kelompok Khawârij, Murji’ah, Qadariyyah, Mu’tazilah, Syi’ah, Asy’ariyyah, Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Isyrâqiyyah, dst. adalah bukti atas faktor kedua tersebut. Di samping schisme tersebut, juga berbagai pemikiran-pemikiran para tokoh yang dapat disebut berikut ini, seperti al-Kindi (185-260/801-873), ar-Râzi, al-Fârâbi (258-339/870-950), Ibn Sinâ (370-428/980-1037), al-Ghazâli (450-505/1058-1111), Ibn Rushd (520-595/1126-1198), Ibn Bajjah (w. 533/1138) as-Suhrawardi (w. 1191), asy-Syirâzi  (1572-1641), dll. Tidak jarang diantara masing-masing tokoh atau kelompok schism tersebut satu sama lain saling mengkafirkan, alias truth claim.[6] Hemat penulis, dewasa ini hal serupa juga dirasakan masih cukup mewarnai dalam kehidupan pemahaman keberagamaan kita.[7] Padahal, kejadian truth claim tersebut semestinya harus dihindari sesedikit mungkin. 

Diakui atau tidak, secara kultural penggunaan istilah-istilah dan prinsip-prinsip ajaran dalam al-Qur’an atau as-Sunnah sebagai rujukan utama umat Islam, tidak jarang bernuansakan model pemikiran ala filsafat.[8] Terlebih lagi, jika dilihat secara historis tentang filsafat sendiri yang telah berkembang jauh sebelum kelahiran agama Islam, seperti di Romawi, India, Persia, dan Yunani.[9] Maka, adalah tepat filsafat peripatetik (masysyâ’î) yang mensintesakan ajaran-ajaran wahyu Islam, Aristotelianisme dan Neoplatonisme, baik Athenian  maupun Alexanderian, ditemukan pada abad III/IX[10] sebagai akulturasi tradisi Islam dengan budaya lainnya, jika bukan jalan tengahnya.

Dengan kenyataan tersebut, ada dua hal yang akan dikemukakan dalam maqâlah ini: pertama, bagaimana secara kultural historis kejadian polemik tersebut dan kedua, apa yang seharusnya dilakukan agar tidak terjadi polemik terus menerus. Maka, tidak berlebihan jika dalam bahasan ini, pengkaji ingin mengungkap terjadinya polemik “Kalâm dan Falsafah” secara kultural-historis. Bagian awal, mengupas sekitar falsafah dan pengaruhnya, lalu kalâm dan pertumbuhannya. Berikutnya, paparan polemik antara keduannya menurut para tokoh-tokohnya, dan sebelum diakhiri dengan penutup, pembahas ingin menawarkan tentang falsafah kalâm sebagai kajian kalam kontemporer yang acceptable.

 

Falsafah dan Pengaruhnya terhadap Islam

 

Falsafah adalah kata dari bahasa Arab. Ia meminjam dari kata Yunani philosophia, yang berarti kecintaan kepada kebijaksanaan, kebenaran (love of wisdom). Adapun dalam ungkapan Arabnya yang lebih “asli”, disebut ‘ulum al-hikmah atau al-hikmah, padanan dari Yunani sophia. Dalam bahasa Indonesia, ia berubah menjadi kata filsafat atau philosophy dalam bahasa Inggris.[11]

Islam hadir ke dunia tanpa filsafat. Akan tetapi, setelah ekspansi beberapa abad selanjutnya dan bersamaan pergaulannya dengan bangsa-bangsa Persia (Iran) khususnya, dan Jazirah Arab (Syiria, Mesir) pada umumnya, menjadikan umat Islam bersentuhan dengan filsafat-filsafat kuno (the philosophies of antiquity).[12] Ini, terjadi setelah adanya pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas daerah-daerah tersebut dibawah para Khalifah. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah yang telah lama mengalami Hellenisasi, Kristenisasi.[13]

Pemikiran filsafat, pertama kali muncul pada abad ke-9 M., di bawah pemerintahan raja-raja Abbasiah, penerus kekuasaan Umayyah. Namun, selama pada Khalifah Umayyah Abdul Malik (685-705) telah terjadi berbagai perubahan culture pemerintahan secara fundamental dalam mengubah bahasa Persi dan Yunani ke dalam bahasa Arab, baik untuk administrasi ataupun laporan-laporan masyarakat. Akhirnya menjelang akhir abad ke-7 bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara.

Setelah itu, proses penerjemahan ke bahasa Arab dari berbagai karya berlangsung (750-1000 M), seperti ilmu kimia, kedokteran dan astrologi, dll. Ibn al-Muqaffa (w. 757) adalah salah seorang penerjemah yang dianggap telah berjasa dalam risalah-risalah logika terakhir. Tetapi, baru secara serius atau sungguh-sungguh penerjemahan itu dilakukan pada masa kekhalifahan al-Manshur ‘Abbasiah dan al-Ma’mun. Abu Bisyr Matta’ dan muridnya Yahya ibn ‘Adi adalah juga salah satu penterjemah abad ke-10 yang patut mendapat perhatian, karena selain menerjemahkan ia juga menjelaskan tentang Aristoteles, terutama logikanya.[14]

Salah satu alasan masyarakat berminat atas ilmu pengetahuan Yunani adalah karena kepraktisan dan dianggap bermanfaat oleh elit penguasa, seperti ilmu obat-obatan, ilmu perbintangan, dan matematika. Adapun salah satu faktor filsafat Yunani dikaji oleh orang-orang Islam kala itu adalah karena adanya karya terjemahan filsafat yang disalin secara bebas ke dalam bahasa Arab, khususnya yang dilakukan oleh cendekiawan Kristen tersebut. Sebagian karya filosofis itu berasal dari bahasa Yunani dan sebagian lagi dari teks asli versi syriac. Namun, keliru besar bila beranggapan bahwa filsafat Islam bermula dari penerjemahan teks-teks Yunani, kata Oliver Leaman.[15]    

Di tengah arus gelombang penterjemahan ketika itu, nampaknya Al-Kindi juga ikut dalam gerakan tersebut. Akan tetapi usahanya itu lebih banyak memberi kesimpulan daripada menerjemah karya-karya tersebut, barangkali karena ia bagian dari ‘orang berada’ sehingga mampu untuk membayar orang lain. Kemungkinan lainnya adalah digunakan untuk menulis karya-karya, baik filsafat, logika, astronomi, kedokteran, dll.[16]

Untuk mengetahui sedikit keterpengaruhannya atas filsafat, perlu kiranya kita melihat salah satu pendapatnya tentang Tuhan dalam Islam. Baginya, Tuhan adalah al-haq al-awwal dan al-haq al-wahid. Tuhan baginya adalah pencipta, bukan penggerak pertama sebagaimana Aristoteles. Dengan melihat pendapatnya itu, maka al-Kindi lebih dekat dengan falsafah Plotinus, dimana Yang maha satu adalah sumber dari alam.[17]

Walaupun jaraknya cukup jauh dengan al-Kindi, Al-Farabi dapat meneruskan gagasannya dengan melahirkan filsafat emanasi. Meskipun, di sisi lain ia sangat ‘dibayang-bayangi’ pemikiran Plato. Rintisan al-Farabi ini kemudian dilanjutkan Ibn Sina dengan menegakkan kembali bangunan Neo-Platonisme dengan menekankan pada hakekat realitas yang tetap, kekal, tak berubah-ubah, dan dari situ muncullah teori “intelek sepuluh”.[18]

Selain mereka, sebut saja Al-Ghazali, misalnya. Ia menulis karya filsafat pertamanya Maqasid al-falasifah, atas inspirasi dasar karya Ibn Sina. Selain menulis polemik negatif atas filsafat al-Farabi dan Ibn Sina dalam Tahafutut al-falasifah,[19] ia juga menuduh keduanya “keluar dari Islam”, dalam Munqidh min ad-dalal dan juga menolak teori emanasi mereka dalam lingkup metafisika.[20] Respon terhadap al-Ghazali dilakukan oleh Ibn Rushd seorang Aristotelianisme muslim dalam Tahafutut at-Tahafutut, dikatakannya bahwa al-Ghazali keliru mengenai Aristotelianisme.[21]

Demikian beberapa pengaruh filsafat Yunani terhadap para pemikir Islam, secara historis dan singkat. Kemudian, apakah filsafat Islam itu diwarnai oleh pemikiran Yunani, tentu saja hal itu tidak dapat dinafikan secara historis. Namun, jika filsafat kenabian, barangkali dapat dikatakan sebagai trade mark filsafat Islam yang orisinil. Meskipun, dalam hal persoalan-persoalan filsafat lain, terutama epistemologi sangat kentara pikiran Yunaninya.[22]    

 

Kalâm dan Pertumbuhannya

 

The science of kalâm, ‘ilm al-kalâm atau kalâm, merupakan sebuah disiplin keilmuan dalam Islam yang selalu diterjemahkan sebagai “speculative theology”.[23] Secara literal, kalâm berarti speech, dialectica, dan word, “perkataan”.[24] Tapi, sebagai istilah kalâm tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam makna pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Karena kata-kata kalâm sendiri dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata dan istilah Yunani logos. Kata logos disalin dalam kata Arab dengan manthîq, sehingga ilmu manthiq disebut juga dengan ilmu logika. Keterkaitan ilmu tersebut, bersamaan dengan Falsafah secara keseluruhan yang dikenal muslim Arab setelah penaklukan dan bergaul dengan bangsa-bangsa yang berlatar belakang peradaban

Yunani dan dunia pemikiran Yunani (Hellenisme).[25]

Secara tradisional, ‘Ali ibn Abi Thalib itu dipercaya bagi kemapanan ilmu kalam, menurut S.H. Nasr dan Nahj al-Balaghah adalah karya ‘Ali sebagai bukti rasional pertama tentang keesaan Tuhan yang mengikuti di belakang Al-Qur’an dan al-Hadits.[26] Namun, untuk mengatakan pertama kali hal itu debatable, seperti dikatakan, bahwa perbincangan teologi Islam atau skolastikisme Islam telah dimulai sejak zaman Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib, karena pada saat itu telah banyak bermunculan aliran pemikiran, jika bukan schisme.[27] Adapun lainnya adalah Mu’tazilah, atau sang rasionalis sebagai pembawa pertama pengaruh filsafat Hellenistik (Hellenistic Philosophy) dalam dunia kalam Islam.[28]

Filsafat tersebut, menurut G.C. Anawati termasuk sumber tak langsung dalam kalam. Anawati menyebutkan bahwa sumber langsung kalam adalah Al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Akal (reason), sedangkan yang tak langsungnya adalah pengaruh Kristen, filsafat Yunani, Manichaesim dan Mazdakism (Iran), dan perselisihan politik.[29] Sumber tak langsung ini, akan nampak logis, jika kita melihat kenyataan dalam sejarah aliran dan pemikiran kalam dalam Islam yang disebut dimuka. Meskipun, William Craig mengisyaratkan bahwa polemik teologis dan filosofis dalam Yahudi dan Kristen adalah pengaruh, dan merupakan kelanjutan, dari polemik teologis dan filosofis dalam Islam.[30]

Pembahasan kalam diarahkannya kepada segi-segi mengenai Tuhan dan derivasinya, karena itu ia sering diterjemahkan dengan Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertian Teologia Kristen, Ilmu Fiqh akan termasuk Teologia). Maka, oleh sebagian ahli menghendaki pengertian yang lebih persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan melihatnya sebagai suatu disiplin yang sangat khas Islam.[31] 

Realitas awal historis itu dapat dijumpai ketika alasan yang digunakan untuk membunuh atau setuju atas pembunuhan ‘Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib. Yakni masalah murtakib al-kaba’ir, orang yang berbuat dosa besar dan boleh tidaknya taat pada pemimpin yang dhalim atau khianat. Bagi kelompok yang mengatakan dosa besar adalah kafir, berarti setuju wajib di bunuh, kelompok ini kemudian disebut Khawarij. Adapun kelompok lain mengatakan untuk ditangguhkan, terserah Allah mau mengampuni atau tidak, kelompok ini disebut dengan Murji’ah. Kedua kelompok ini lebih bernuansakan relegio-politis.[32] Selanjutnya, isu Kalâm itu meluas dan melingkupi banyak kajian, kata James Pavlin.[33] Hal itu karena berkembangnya filsafat Yunani, kontroversi teologis awal adalah soal kehendak bebas dan takdir. Bagi yang setuju kehendak bebas disebut dengan Qadariah dengan tokohnya Ma’bad al-Juhaini (w. 699) dan Ghailan ad-Dimsyiqi (w. kira-kira 743). Antitesa dari Qadariyah adalah Jabariyyah dengan pandangan determenistik-fatalistime yang dipelopori Jahm ibn Shafwan (w. 745). Setelah tokoh Qadariyyah dieksekusi Khalifah Umayyah, karena dianggap biangnya instabilitas politik, kelompok ini seakan-akan lenyap. Washil ibn Atha (w. 748) dengan Mu’tazilahnya seakan menggantikan Qadariyyah, ketika harus berdebat dengan kelompok Jabariyyah tentang berbagai hal, seperti kufr dan iman, keadilan dst. Dari beberapa aliran tersebut, yang menggunakan teologi rasional adalah Mu’tazilah, karena mereka telah memadukan antara iman dan akal, dengan memakai logika Yunani dengan tanpa terjebak pada filsafat tertentu.         

Seiring dengan perjalanan sejarah, sangat tepat bila pokok persoalan kalam untuk masa kini mulai digagas agar kontekstual, tidak hanya berkutat pada kajian-kajian yang telah dipersoalkan oleh para mutakallim abad pertengahan. Meskipun persoalan “akal-wahyu, iman, kekuasaan- keadilan-sifat-perbuatan dan kemutlakan Tuhan”[34] itu tidak serta merta dihilangkan, tapi sudah saatnya untuk mempertimbangkan agar disentuhkan dengan problematika sosial kontemporer. Bagaimanapun, dahulu juga mutakallimun ketika mempersoalkan tema-tema itu karena kehendak sejarah yang sarat dengan masalah-masalah sosial saat itu, dimana masyarakat sedang mengalami pergulatan filosofis ala Yunani.

 

Kalâm dan Falsafah

 

Dalam analisis ini, pengkaji akan melihat polemik antara kalam dan falsafah pada Al-Ghazali dan Ibn Rushd. Di muka telah disebutkan bahwa Al-Ghazali menuduh Al-Farabi dan Ibn Sina “telah keluar dari Islam”, sementara Ibn Rushd mengatakan Al-Ghazali keliru mengenai Aristotelianisme. Komentar Ibn Rushd ini, dalam frame teologis atau syari’ah, kurang begitu berdampak, berbeda dengan kritik Al-Ghazali yang sarat dengan nuansa teologis dan syari’ah. Makanya, hemat pengkaji hingga saat ini belum ada sebuah karya besar yang meng-counter pendapat Ibn Rushd tersebut.

Berkaitan dengan polemik kedua tokoh tersebut, mengingatkan kita pada polemik yang terjadi di muka kepala pemerintahan di Baghdad tahun 932 M. Dimana perselisihan itu terjadi antara ahli penerjemah beragama Kristen Abu Mishr Matta’ (870-940) dengan Abu Sa’id as-Sirafi (893-979) tentang faedah dan jasa “pengetahuan baru” yang datang dari tradisi filsafat Yunani.[35] Meskipun antara keduanya tidak sampai saling menyalahkan secara teologis. Hal ini membenarkan apa yang dikatakan Oliver Leaman, bahwa para ahli filsafat dan teologi cenderung saling mencemoohkan antara yang satu dengan yang lainnya atau saling tukar menukar cacian, sejak abad ke-9 hingga ke-11 M.[36]

Polemik tersebut, sebenarnya antara keduanya itu mempunyai metode yang berbeda. Setidaknya, perbedaan dalam tiga hal: pertama, mutakalimun (teolog) lebih dahulu percaya kepada pokok persoalan dan mempercayai kebenarannya, baru menetapkan dalil-dalil untuk pembuktiannya. Sedangkan filosof, mereka melepaskan pengaruh kepercayaan dalam melakukan penyelidikannya hingga mencapai suatu konklusi.[37] Kedua, metode kalam itu jadallî (dialektis), yakni dualistis, diskontinyu, dan dialogis sedangkan filsafat menggunakan metode bayanî (demonstratif), yakni sintesis, kontinyu, dan analogis.[38] Ketiga, pendekatan kalam menekankan having a relegion (mempunyai agama) sedangkan filsafat menekankan being relegious (menjadi agamis).[39] Pada kasus Al-Ghazali tersebut, ia memposisikan dirinya lebih sebagai teolog, mutakallim. Meskipun, pada sisi lain Al-Ghazali juga sebagai filosof dan sufi.

Apakah tidak ada upaya untuk memadukan antara falsafah dan kalam tersebut? Sebenarnya, telah banyak upaya itu dilakukan, sebagaimana oleh Mu’tazilah, Asy’ariyah atau kedua tokoh tersebut, hanya kemudian subyektifitas dan kecenderungan itu tidak bisa dilepaskan. Makanya, yang terjadi adalah polemik dan akan terus berlanjut hingga kapanpun. Hal ini, sebenarnya dalam kerangka intelektual sangat bagus, karena ada dinamika, hanya yang perlu dihindari adalah truth claim. Dari sini, barangkali perlu adanya suatu upaya untuk meminimalisir polemik tersebut. Dalam rangka itu, penting sekali untuk menghindari istilah-istilah yang akan menjebak pada truth claim tersebut. Seperti misalnya ilmu kalam, karena dalam sejarahnya sudah ada kesan dogmatis dst. perlu kiranya diubah dengan “falsafah kalam”, sebagaimana di bawah ini.

 

Perlunya Falsafah Kalam

 

Dalam paparan di atas, nampak terlihat bahwa polemik “kalam dan falsafah” secara historis dikarenakan, aspek epistimologis. Namun, sayangnya upaya kritik epistemologi masih cukup langka dalam pemikiran Islam tersebut, kata Moh. Arkoun.[40] Sehingga, anomaly yang terjadi itu seakan sepi dan seperti angin lalu saja, berbeda dengan jika anomaly tersebut dianggap cukup signifikan, maka pemikir-pemikir Islam perlu mengadakan research ulang dan memodifikasinya, kata M. Amin Abdullah.[41]

Belajar atas pengalaman tersebut, penting kiranya untuk memikirkan solusi atas problem kontemporer dan masa depan. Salah satu upaya itu adalah dengan merubah  istilah ‘Ilmu Kalam’ dengan ‘Falsafah Kalam’, sebagaimana digunakan H.A. Wolfson.[42] Karena falsafah adalah gagasan-gagasan pemikiran yang dibentuk oleh tantangan zamannya, maka usaha untuk mengembangkan ilmu kalam tersebut, sangat memungkinkan. Sehingga, dengan falsafah kalam, para pemikir muslim tidak pakewuh untuk mempertanyakan ulang gagasan-gagasan Islam abad klasik dan tengah yang dianggap taken for granted, khususnya tentang ketuhanan.[43]

 

 

 

Penutup

 

Demikian paparan selintas mengenai polemik kalam dan falsafah. Munculnya polemik keduanya dalam tinjauan sejarah tersebut, lebih tampak karena keduanya mempunyai pijakan yang berbeda, baik metode atau pendekatannya. Hanya sayangnya, dalam kasus al-Ghazali, ia kemudian menyalahkan pihak lain, al-Farabi dan Ibn Sina.

Karena itu, untuk meminimalisir polemik, kajian kedepan perlu kiranya mempertimbangkan istilah falsafah kalam, sebagai terminologi-ganti dari ilmu kalam yang cenderung dogmatik dan truth claim. Dengan begitu kita dapat menghindari polemik yang tiada bermanfaat dan ajaran Islam memang (lebih) tolerance terhadap perbedaan yang ada dan inclusive atas pluralitas.

Sehingga dikotomi keilmuan dalam sejarah pemikiran Islam tidak menjadikan perpecahan dalam tubuh umat Islam sendiri, justru sebaliknya, yakni menjadi “sadar” dan menghargai khazanah yang telah berkembang selama ini. Hal itu, tentu saja dengan tidak mengesampingkan apakah berasal tradisi Islam atau non Islam. Dengan begitu, polemik-pun tidak berlarut-larut. Apa yang disebut sebagai Ikhtilâf al-a’immah rahmah al-ummah, benar-benar menjadi suatu kenyataan, bukan utopia. [ ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RUJUKAN

 

Abdullah, M. Amin. “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Millenium Ketiga”, dalam Ulumul Qur’an, No. 5/VII/1997.

_______. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

_______. Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.

_______. “Aspek Epistemologis Filsafat Islam” dalam Irma Fatimah, Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, Historis, Prospektif, (Yogyakarta: Lesfi, 1992)

Anawati, Georges C. “Kalam”, dalam Mircea Eliade (edit.) The Encyclopedia of  Relegion Vol. 8. Penterj. Richard J. Scott. New York: Macmillan Publishing Company, 1987. Hlm. 231-242.

Bakar, Osman. Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pilar Islamisasi Ilmu, penterj. Purwanto. Bandung: Mizan, 1997.

Fakhry, Majid. A History of Islamic Philosophy. New York: Columbia University Press, 1983.

_______. Sejarah Filsafat Islam, penterj. Mulyadhi Kertanegara. Jakarta: Pustaka Jaya, 1987.

Gordet, Louis dan J. Anawati. Falsafah al-Fikr ad-Dini: Bain al-Islam wa al-Masihiyyah. II Penterj. Subhi as-Salih dan Farid Jabr. Beirut: Dar al-‘Ilm al-Malayin, 1983.

Glasse, Cyril. The Concise Encyclopedia of Islam. San Fransisco: Harper & Row, 1989.

Hyman, Arthur & James J. Walsh, Philosophy in The Middle Ages: The Christian, Islamic and Jewish Traditions. Indianapolis: Hackett Publishing Company, 1973. 

Halem, M. Abdel. “Early kalâm”, dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), History of., Vol. 1.

Leaman, Oliver. An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, diterjemahkan Amin Abdullah menjadi Pengantar Filsafat Islam (Abad Pertengahan). Jakarta: Rajawali Press, 1989.

Madjid, Nurcholish. “Disiplin Keilmuan Tradisional Islam: Ilmu Kalam (sebuah Tinjauan Kritis Kesejarahan)”, dalam Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Paramdina, 1992.

_______. “Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme Di Dalamnya”, dalam Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Paramdina, 1992.

M.S.M., “Islamic Theology and Philosophy”,  Macropædia (edit.) dalam The New Encyclopædia Britanica Vol. 9. London: Encyclopædia Britanica Inc., 1974. hlm. 1012-1025.

Marmura, Michael E.  “Falsafah” dalam Mircea Eliade (edit.) dalam The Encyclopedia of Relegion Vol 5. New York: Macmillan Publishing Company, 1987.  hlm. 267-276.

Montgomery, Watt, W. Islamic Philosophy and Theology. Edinburgh: Edinburgh University, 1985.

Morewedge, Parviz. “Theology”, dalam John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World Vol. 4. New York: Oxford University Press, 1995.

Munawar-Rahman, Budhy. “Filsafat Islam”, dalam Muhammad Wahyuni Nafis (edit.). Rekonstruksi dan Renungan Relegius Islam. Jakarta: Paramadina, 1996.

Nasr, Sayyed Hussein. Intelektual Islam: Teologi, Filsafat dan Gnosis, penterj. Suharsono dan Djamaluddin  MZ.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Nasution, Harun. Falsafat & Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995 cet. IX.

_______. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986) A. Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: Bulan Bintang,  1996)

Pavlin, James. “Sunni kalam and theological controversies” dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), History of Islamic Philosophy, Vol. 1 (New York: Routledge, 1996)

Sharif, M.M. (edit.). A History of Muslim Philosophy vol 1. Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1963.

Wolfson, Harry Austin. The Philosophy of The Kalam. Cambridge: Harvard University Press, 1976


[1] Tulisan ini pernah dimuat Jurnal Lektur STAIN Cirebon (2003), hanya saja, mohon maaf ada nama penulis lain, tanpa sepengetahuan saya sendiri sebagai penulis dan pengirim tulisan. Demi kemaslahatan kajian

[2] Istilah “Hellenisme”  pertama kali diperkenalkan oleh ahli sejarah dari Jerman, J.G. Droysen. Ia menggunakan perkataan “Hellenismus” sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya sebagai periode peralihan antara Yunani kuna dan dunia Kristen. Droysen lupa akan peranan Roma dalam agama Kristen (dan membatasi seolah-olah hanya Yunani saja yang berperan). Namun ia diakui telah berhasil mengidentifikasi suatu kenyataan sejarah yang amat penting. Biasanya yang disebut zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu ialah masa sejak tahun 323 sampai 30 S.M. atau dari saat kematian Iskandar Agung (the Alexander the Great) sampai penggabungan Mesir ke dalam kekaisaran Romawi. Sebab dalam periode itu muncul banyak kerajaan di sekitar Laut Tengah, khususnya pesisir  timur dan selatan seperti Syiria dan Mesir,  yang diperintah oleh bangsa Makedonia dari Yunani. Akibatnya, mereka ini membawa berbagai perubahan besar dalam banyak bidang di kawasan itu, antara lain bahasa (daerah-daerah itu didominasi Bahasa Yunani), dan pemikiran (ilmu pengetahuan Yunani, terutama filsafatnya, diserap oleh daerah-daerah itu melalui berbagai cara). Lihat, Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan, (Jakarta: Paramdina, 1992), hlm. 233. Bandingkan dengan “Hellenic Age” dalam Britanica.

Tentang “Keterpengaruhan” Hellenistik pada Kalam dan Filsafat, lihat W. Montgomery Watt, Islamic Philosophy and Theology, (Edinburgh: Edinburgh University, 1985), hlm. 33-128. 

[3] M.S.M., “Islamic Theology and Philosophy”,  Macropædia (edit.) dalam The New Encyclopædia Britanica Vol. 9,  (London: E ncyclopædia Britanica Inc., 1974), hlm. 1012. Tambahan kata ‘historis’ dari penulis sendiri. 

[4] Seperti diilustrasikan oleh Nurcholish Madjid. Katanya, terdapat sebuah penalaran logis oleh orang-orang yang melakukan pembunuhan ‘Usman ibn ‘Affan atau menyetujui pembunuhan itu. Urutan penalarana itu secara sederhana, kira-kira demikian: mengapa ‘Usman boleh atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan pemerintahan) padahal berbuat dosa besar adalah kekafiran. Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran ? karena manusia berbuat dosa besar, seperti kekafiran adalah sikap menentang Tuhan, maka harus dibunuh. Dari sinilah kemudian muncul cikal-bakal aliran Qadariah. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin., hlm. 204.     

[5] Nurcholis., Ibid.,  hlm. 219.

[6] Sebagaimana terjadi pada Khawarij, ketika hendak membunuh ‘Ali ibn Abi Thalib, begitu juga dengan Al-Ghazali pada Al-Farabi dan Ibn Sina.

[7] Seperti terjadi ‘pengkafiran’ pada Nashr Abu Zaid di Mesir, menurut penuturan empirik kawan yang kuliah di Universitas al-Azhar.

[8] Seperti Al-Qur’an menggambarkan Nabi Ibrahim mencari Tuhan (QS. al-An’am: 74-79). Demikian pula dengan ayat-ayat kauniyyah

[9] Lihat, M.M. Sharif (edit.), A History of Muslim Philosophy vol 1, (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1963), hlm. 15-135

[10] Sayyed Hussein Nasr, Intelektual Islam: Teologi, Filsafat dan Gnosis, penterj. Suharsono dan Djamaluddin  MZ. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 33

[11] Nurkholis, hlm. 218; Bandingkan dengan Michael E. Marmura, “Falsafah” dalam Mircea Eliade, The Encyclopedia of Relegion Vol.5, (New York: Macmillan Publishing Company, 1987), hlm. 267.

[12] Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia of Islam, (New York:Harper & Row, 1989), hlm. 309

[13] Nurkholis., hlm. 219

[14] Madjid Fakhri, hlm. 4-19.

[15] Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, diterjemahkan Amin Abdullah menjadi Pengantar Filsafat Islam (Abad Pertengahan), (Jakarta: Rajawali Press, 1989), hlm. 5-8

[16] Harun Nasution, Falsafat & Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995 cet. IX), hlm. 14.

[17] Ibid., hlm. 16.

[18] Madjid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam, penterj. Mulyadhi Kertanegara (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987), hlm. 197; Lihat, Harun Nasution, hlm. 35; Amin Abdullah “Aspek Epistemologis Filsafat Islam” dalam Irma Fatimah, Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, Historis, Prospektif, (Yogyakarta: Lesfi, 1992), hlm. 33.

[19] Osman Bakar, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pilar Islamisasi Ilmu, penterj. Purwanto (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 184

[20] M. Amin Abdullah, “Aspek Epistemologis”, hlm. 41. 

[21] Madjid Fakhri, A History of Muslim Philosophy, (New York: , 1970), hlm. 270-292.   

[22] M. Amin Abdullah, “Aspek Epistemologis”. hlm. 33

[23] M. Abdel Halem, “Early kalâm”, dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), History of., Vol. 1, hlm. 71

[24] Harry Austryn Woltfson, The Philosophy of The Kalam

[25] Nurcholis Madjid,. hlm. 203-204

[26] Sayyed H. Nasr, Intelektual Islam., hlm. 5

[27] Parviz Morewedge, “Theology”, dalam John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World Vol. 4 (New York: Oxford University Press, 1995); Bandingkan Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia of Islam, (San Fransisco: Harper & Row, 1989), hlm. 216-217. Beberapa kelompok itu antara lain, Khawarij; Qadariyyah, Murji’ah dan Jabariyyah. Bandingkan, foot note no. 3 di muka.

[28]Cyril Glasse, The Concise Encyclopedia., hlm. 309.

[29] Georges  C. Anawati, “Kalam”, dalam Mircea Eliade, The Encyclopedia of Relegion Vol. 8 (New York: Macmillan Publishing Company, 1987), hlm. 232-233. Lihat juga, Louis Gordet dan G. Anawati, Falsafah al-Fikr ad-Dini: Bain al-Islam wa al-Masihiyyah, (Beirut: Dar al-Ilm al-Malayin, 1979), khusus jilid II.

[30]Mengutip Nurcholis, hlm 280.

[31] Ibid., hlm. 201-202.

[32] Madjid Fakhri, hlm. 72-77. Harun Nasution, hlm. 7

[33] James Pavlin, “Sunni kalam and theological controversies” dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), History of Islamic Philosophy, Vol. 1 (New York: Routledge, 1996), hlm. 105

[34] Lihat, Harun Nasution, hlm. 79-150.

[35] Oliver Leaman, Pengantar Filsafat., hlm. 12

[36] Ibid., hlm. 10

[37] A. Hanafi, Theology Islam (Ilmu Kalam), (Jakarta: Bulan Bintang,  1996) cet.XI,  hlm. 14

[38] Budhi Munawar., hlm. 318.

[39] M. Amin Abdullah, “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Millenium Ketiga”, dalam Ulumul Qur’an, No. 5/VII/1997, hlm. 61.

[40]Mengutip dari M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 128.

[41] Ibid., hlm. 129.

[42] Harry Austin Wolfson, The Philosophy of The Kalam, (Cambridge: Harvard University Press, 1976), dalam buku ini kita akan mengetahui bahwa istilah kalam juga dipakai dalam agama selain Islam, seperti Yahudi. Dari sini juga, diketahui bahwa kalam itu bukan sesuatu yang sakral atau dogmatis.  

[43] Amin Abdullah, Studi Agama., hlm. 129-130.

%d bloggers like this: